Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Kekuatan Instagram yang Mengubah Hidup dan Budaya Masyarakat

11 Januari 2019   10:59 Diperbarui: 12 Januari 2019   11:36 1123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : Starbucks via Associated Press

Soal menupun jadi pertimbangan. Starbucks yang memproduksi kopi sempat pula memproduksi minuman yang instagrammable. Unicorn Frappuchino, salah satunya. Siaran pers untuk produk baru inipun dikemas dalam cerita mistis tentang Unicorn yang bertanduk satu itu dalam cerita dongeng. Ide dari Frappuchino yang pernuh warna dengan berbagai hiasan bak cup cake ini menjadi cepat sekali beredar di Instagram pada 2017. 

Foto : Starbucks via Associated Press
Foto : Starbucks via Associated Press
Bukan itu saja, restoran perlu siap dengan menu yang berwarna dan instagrammable, untuk bisa menarik calon pembeli yang disasar. Peran desainer menjadi sangat penting untuk mewujudkan mimpi itu. Selanjutnya pengguna Instagram akan melanjutkan tugasnya. Menyebarkan promosi menjadi hit dan, restoran kecil pun bisa viral. 

Foto : Chloe by Mikey Pozarik
Foto : Chloe by Mikey Pozarik
Instagram mengubah budaya dan pengalaman masyarakat. Hal ini berlaku dalam hal makanan, olahraga, pendidikan, tempat wisata, dan juga museum. Kecepatan perubahan 'tren' yang ditayangkan oleh Instagram, pada akhirnya juga menuntut perubahan cepat serta inovasi serta kreativiitas dari layanan yang ada. Apa yang dilakukan oleh Taman Dewari adalah salah satu contohnya. 

Perkembangan budaya yang dipicu media sosial membuat Instagram mampu mendorong pengusaha menjadi kreatif, memperbarui diri, dan terus bersolek. Ini terjadi di seluruh dunia. Indonesia salah satunya.

Misalnya, Museum Ice Cream di Manhattan yang dibuka pada tahun 2016. Museum ini menawarkan berbagai sejarah Ice Cream, ruang-ruang berwarna warni bagai gelatto, gua permen, dan kolam meisjes warna warni. Museum menjadi terkenal dan membuka cabang di Los Angeles, San Francisco dan Miami. Perubahan dan penyesuaian dilakukan agar pelanggan tetap hadir. 

Meisjes yang ada di kolam museum ini tidak dapat dimakan. Bahannya bukan dari coklat seperti di istana Willy Wonka. Walau disebut sebagai museum, tempat ini lebih menyerupai dengan tempat bermain anak. Tema membuat tempat bermain ini seakan punya cerita. Interior dan permainan yang ada diciptakan untuk dapat difoto dengan indah, bila ditayang di Instagram. Instagrammable.

Kolam Meisyes - Museum Ice Cream (Foto : online.com)
Kolam Meisyes - Museum Ice Cream (Foto : online.com)
Beberapa pengamat berpendapat apa yang bisa dilakukan di museum itu terbatas. Pengunjung tidak bisa bermain di kolam 'meisjes' dan sendok pasir. Pada umumnya pengunjung hanya akan berfoto dan bergeser ke ruang lain. Pengunjung berikutnya hadir. Berfoto dan pergi. 

Dengan harga tiket sebesar US $ 38 per orang yang tentunya tergolong cukup tinggi untuk suatu tempat berfoto seoalh tak jadi masalah dan tempat seperti ini tetap dicari. 

Di Yogyakarta, De Mata Trick Eye Museum menawarkan sensasi tiga dimensi bagi pengunjung untuk berpose dengan ragam latar belakang yang tampak nyata. Museum ini disebut terbesar di dunia karena menawarkan 120 gambar tiga dimensi. Mereka mengklaim bahwa dii luar negeri paling banyak hanya 70 gambar. Pengunjung akan hadir dan berfoto. Lalu berpindah ke latar gambar berikutnya. Dan pengunjung lain akan datang silih berganti. Untuk berfoto. Tentu, sebagian darinya akan ditayangkan di Instagram. 

Salah satu foto di De Mata Trick Eye 3D Museum| Foto : Tripadvisor
Salah satu foto di De Mata Trick Eye 3D Museum| Foto : Tripadvisor
Museum Macan di Jakarta, Museum Angkut di Malang, Amazing Art World di Bandung, Museum Moja di Pondok Indah, dan Alive Museum di Jakarta hanyalah beberapa contoh lain saja.

Di dunia wisata, kita dapatkan pengguna Instagram berkunjung tempat-tempat 'mainstream', seperti Taj Mahal di India, menara Eiiffel di Paris, dan Big Ben di London atau wisatawan solo yang mengunjungi tempat eksotis seperti ke pegunungan Himalaya, dengan didampingi porter dan fotografer. Keduanya bisa 'instagrammable', dengan meninggalkan kesan yang berbeda. Berbeda bagi pemiliki akun Instagram, berbeda bagi pembacanya, dan tentu berbeda bagi pengelola wisata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun