Tak dipungkiri Covid-19 memberikan dampak pada banyak sektor kehidupan. Seorang Ibu bahkan tak diizinkan memeluk dan mencium anaknya karena dikhawatirkan membawa virus berbahaya tersebut.
Sehari menjelang Idul Adha, anak bujang satu-satunya menelepon dari asrama. Dari suaranya yang serak, saya curiga ada yang tidak beres. Namun, dia mengaku baik-baik saja.
Anak bujang kemudian meminta bicara dengan kakaknya. Kadang mereka berdua punya rahasia, maka saya tinggalkan untuk memberi privasi bagi keduanya.
Ketika telepon kembali ke saya, suaranya terdengar aneh. Ada isak yang tertahan. Saya kaget dan khawatir. Kenapa? Ada apa denganmu? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja, kan? Rantaian pertanyaan saya hanya dijawab tidak apa-apa.
"Adik sedikit flu dan batuk, ibu tak perlu khawatir".
Agak lega, tetapi masih curiga. Saya mencerewetinya untuk banyak minum air putih, minum obat, banyak istirahat, jangan ini, jangan itu dan rentetan kecerewetan lainnya.
Hari H Idul Adha, anak bujang kembali menelepon. Setelah bertukar kabar dan bercerita ini itu, dia meminta bicara dengan kakaknya. Seperti biasa, mereka kembali mendapatkan privasi. Â Saya pun meneruskan pekerjaan yang tadi tertunda.
Selang beberapa lama, Adik yang sedang mudik menghampiri. Dengan suara nyaris berbisik dia berkata
"Kak, Si Ghazy nangis. Tadi aku sempat nyeletuk menyela obrolan mereka. Sepertinya dia kaget aku di Kerinci. Dia sempat menanyakan Naya dan Icha," jelasnya.
"Aku merasa bersalah Kak, jangan-jangan karena tahu kami di kampung dia jadi sedih."