Artinya, terorisme adalah musuh semua agama. Entah itu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun agama-agama kepercayaan. Terorisme, radikalisme, dan intoleransi adalah musuh kita semua. Sudah cukup, berhenti menyalahkan umat Islam atas segala peristiwa terorisme. Sebab umat Islam sendiri juga menjadi korban.
Penembakan di Christchurch dapat menjadi awal lunturnya stereotip bagi umat Islam. Selama ini, Islam dipandang sebagai agama keras, radikal, dan sarang teroris. Tidak, sungguh itu tidak benar. Umat Islam sama seperti umat agama yang lain: merasakan kekejaman terorisme. Terorisme bukan Islam, dan Islam bukanlah teroris.
Young Lady cantik ingin, ingin sekali stereotip yang mendera umat Islam terhapus. Sudahlah, berhenti mendiskreditkan umat Islam. Lihat kan? Muslim yang sedang beribadah saja jadi korban. Ataukah peristiwa ini tak cukup membuka mata?
Betapa mahal harga empati. Islamophobia marak dimana-mana, tuduhan terorisme dilancarkan, gerakan anti-Islam dipropagandakan, dan Muslim ditembaki ketika shalat. Tidakkah orang-orang anti-Islam itu berempati sedikit saja? Bila dibandingkan dengan agama-agama lain, syariat agama Islam lebih berat. Harus ritual ini-itu lima kali sehari, harus begini begitu, tidak boleh begini tidak boleh begitu.Â
Tapi kalian, yang tidak tahu apa-apa dan tidak pernah menjalankan syariat Islam, seenaknya saja melekatkan stereotip. Sungguh, kalian tidak tahu apa-apa tentang Islam. Sudah tidak tahu, tidak empati pula. Sampai kapankah keadaan ini akan berakhir?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H