First impression Young Lady cantik tentang kegiatan KKN yang tengah dijalani: not good. Tidak ada kesan baik atau menyenangkan tiap kali terlibat kegiatan ini. Sejak awalnya pun sudah tidak menyenangkan.
Mau tak mau jadi kecewa juga memilih universitas yang mewajibkan KKN sebagai syarat wajib. Young Lady tak tahu persis, apakah semua universitas di Indonesia mewajibkannya? Barangkali Kompasianers ada yang tahu? Coba share sama Young Lady nanti ya.
Buat Young Lady, KKN ini sama sekali tak ada gunanya. Buang-buang waktu, buang-buang uang, perencanaannya kurang sistematis, dan tetap saja anggota kelompoknya tidak punya rasa peduli. Sebelas orang disatukan dalam sebuah kelompok.Â
Lalu kelompok yang tidak saling kenal itu membuat program-program untuk memajukan desa. Sementara itu, desa yang menjadi target program telah maju dan sudah tidak layak disebut 'desa' lagi. Terlebih desa yang menjadi lokasi KKN rawan dengan aksi kejahatan. Warganya apatis karena sudah kecanduan gawai.
Belum lagi soal budget yang cukup besar. Tak masalah bila semua mahasiswanya mampu. Tapi, bagaimana kalau ada mahasiswa kurang mampu dalam kelompok itu?Â
Haruskah ia dipaksa juga mengeluarkan budget besar hanya untuk 40 hari yang tak ada gunanya? Terlebih jika tak ada transparansi dalam penggunaan anggaran yang kelewat besar.
Young Lady cantik takkan perhitungan kalau mengeluarkan uang untuk beramal pada kaum duafa atau untuk orang-orang yang dicintai. Tapi, jujur saja, Young Lady menjadi sangat perhitungan kalau budgetnya untuk KKN. Silakan saja mengatakan Young Lady pelit. I don't care. Seperti lagunya Afgan, tak peduli.
Dosen pembimbing juga mempersulit saat kelompok KKN yang dibimbingnya membuat janji bertemu. Bukannya membimbing, malah mempersulit mahasiswanya. Apatisme dan ketidakpedulian menjadi kesan pertama yang ditunjukkannya.
Keramahan palsu yang dibuat-buat, Young Lady rasakan itu. Sepuluh anggota kelompok di kanan-kiri Young Lady mengesankan diri begitu ramah, hangat, dan wellcome. Namun, sebenarnya mereka no empati. Mereka semua tipe mahasiswa-mahasiswa idealis, kaku, dan mempertontonkan keramahan sebagai kepura-puraan. Tertangkap rasa iri dan antipati.
My mom tidak mengizinkan Young Lady menginap di rumah yang dijadikan posko KKN. Terlalu berisiko, katanya.Â
Lagi pula, belum tentu anggota kelompok peduli dan memahami Young Lady. Alhasil Young Lady tidak tinggal bersama mereka. Young Lady pun tidak pernah makan bersama mereka. Sepertinya Young Lady cantik tak bisa makan semeja dengan orang-orang kelewat antipati.
Hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus turun ke lapangan. Belum lagi ketika medannya sulit. Ada satu momen dimana kelompok KKN harus turun ke sawah dan mengambil sampah dengan gerobak beroda. Itulah yang dicemaskan Young Lady.
Belakangan ini, tekanan darah Young Lady turun rendah sekali. Sejak terkena virus dan infeksi. Praktis Young Lady cantik tak bisa berdiri lama-lama. Luka karena infeksi pun terkadang masih meninggalkan rasa sakit. Sudah Young Lady jelaskan kondisinya pada mereka. Sama saja, tak ada pengertian sedikit saja.
Lebih disesalkan lagi, tak ada dispensasi/tugas pengganti sebagai kebijakan untuk meringankan mereka yang sakit atau punya keistimewaan khusus. Universitas tetap mewajibkan KKN bagi yang sakit maupun difabel.Â
Whereas KKN sering kali tidak sesuai porsi dan memberatkan bagi orang-orang seperti mereka. Letak kesulitannya adalah ketika ada aktivitas-aktivitas yang mengharuskan turun ke lapangan dengan medan yang sulit dan asing. Sayangnya, universitas tidak memberi kebijakan untuk mereka yang istimewa.
Masih perlukah KKN dipertahankan? Di negara-negara maju, tak ada program seperti ini. KKN sudah kehilangan esensinya sebagai kegiatan yang edukatif dan bermanfaat.Â
Seiring perkembangan teknologi dan kemajuan di berbagai sektor kehidupan, program KKN nampaknya sudah tidak relevan lagi.Â
Dari pada mewajibkan mahasiswanya KKN, mengapa tidak diberikan syarat wajib yang lebih mendidik lagi? Misalnya, mahasiswa diwajibkan membuat buku.Â
Waktu yang digunakan untuk KKN bisa dialihkan untuk menulis buku. Program seperti itu justru akan meningkatkan kreativitas, tanggung jawab, kompetensi, dan intelektualitas mahasiswa itu sendiri.Â
Dengan menulis buku, mahasiswa dilatih untuk mengasah kreativitas, melakukan research untuk mendapatkan data/referensi tulisannya, dan sebagai sarana aktualisasi diri. Setelah buku itu selesai ditulis, bukankah bisa diterbitkan?
 Tidakkah itu jauh lebih berguna dibandingkan program KKN yang sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman?
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI