Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Akankah Kutemukan Belahan Jiwa?

26 Maret 2017   13:50 Diperbarui: 26 Maret 2017   13:58 803
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pria tampan itu teramat larut dalam kesedihan. Sampai-sampai ia tak menyadari ketika Dewi telah duduk di sisinya. Dewi mengulurkan tangan. Lembut membelai rambut Albert.

“Ingat kata Muriel Maufroy dalam novelnya, Kimya Sang Putri Rumi? Kadang kala, beban terasa berat untuk dipikul sendirian.” Dewi berkata lembut. Lalu ia melanjutkan.

“Kakak jangan sedih ya?”

“Nita bukan wanita yang baik. Dia tidak tahu betapa menderitanya Kakak. Dia tidak mengerti \bagaimana rasanya sakit kanker getah bening. Limfoma Hodgkin’s itu kasus yang sangat langka, Kak. Nita tidak mau tahu rasanya sel-sel darah putih dan kelenjar limfa rusak karena kanker, sulit bernafas dan batuk darah karena metastasis sel kanker ke paru-paru, dan banyak konsekuensi menyakitkan lainnya. Tapi Kakak jangan sedih lagi ya? Kakak masih punya Ayah, Ibu, dan aku. Aku akan selalu ada untuk Kakak.” ujar Dewi, tulus dan dalam.

“Terima kasih, Dewi. Kamu, Ayah, dan Ibu adalah alasan terbesarku untuk bertahan.” balas Albert.

Dewi menggenggam tangan Albert. “Aku percaya, Kakak pasti menemukan belahan jiwa kelak. Belahan jiwa yang akan mencintai Kakak dengan tulus. Yang bisa menerima Kakak dengan semua kekurangan, kelebihan, dan masa lalu yang Kakak miliki. Orang baik seperti Kak Albert pantas mendapatkan belahan jiwa yang baik juga.”

“Iya, Dewi.”

Perlahan-lahan, Dewi membantu kakaknya berdiri. Saat akan beranjak meninggalkan kamar mandi, Albert  kembali merasakan sakit. Dewi menyadarinya.

“Kak, apa yang Kakak rasakan? Mana yang sakit?” tanyanya cemas.

Albert  membungkuk. Lalu ia muntah rah. Dalam sekejap, lantai putih itu berubah merah karena darahnya sendiri. Wajah Albert  semakin pucat. Ia jatuh pingsan di pelukan Dewi.

**   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun