Pertama kali melihat ada beberapa pekerja dan bambu-bambu yang di pasang, saya sempat mengira jalan lintas bawah tanah atau underpass di dekat kawasan Thamrin sudah dimulai pengerjaannya. Saya sempat nyeletuk ke mas ojol , "Itu lagi pembangunan underpass ya,mas?"Â
Karena saya sering lihat bambu dipakai buat pelengkap dalam pembanguna pas di kampung dulu ya. Jadi mohon dimaklumi ke-kepo-an saya.
Mas ojol pun menjawab, "Underpass opo, Mba?"
"Itu lho, mas, buat menyebrang lewat bawah tanah."
"O, Iya,mba, itu lagi dibangun. Keren ya idenya pak Anies?"
Apalagi kalau malem fasilitas Pedestrian Light Control Crossing (Pelican Crossing) untuk menyebrang di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Motor Mobil ngebut-ngebut, kayak jalan milik sendiri.
Tapi benar kata pepatah, jangan berharap terlalu tinggi, jatuh itu rasanya lumayan. Lumayan kecele.
Beberapa hari berselang, saya baru tahu bambu bambu itu ternyata disulap menjadi instalasi seni tertancap kokoh di tanah yang katanya paling mahal di Jakarta.
Pertama yang terlintas di benak saya adalah, kekontrasan dengan kondisi Bundaran HI yang modern, gedung-gedung tinggi dan megah yang ada di sekitarnya.
Memamerkan karya dengan materi bambu dengan melibatkan ahli bambu, arsitek, komposer, musisi, perajin dan pengiat bambu dari dalam maupun luar negeri.
Namun, jika di Bamboo Biennale instalasi seni bemateri bambu yang di pamerkan tidak hanya satu, bermacam-macam bentuk. Instalasi yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ini hanya satu.
Tujuan Bamboo Biennale dan pemasangan instalasi bambu bernama Getah Getih ini pada dasarnya sama. Selain menggaet perhatian masyarakat juga membawa inovasi baru sekaligus dapat mempertahankan bambu di Indonesia. Mengingat bambu sebagai material masa depan yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dengan menggali potensi, menstimulasi dan menghimput ide kreatif dari para penggiat bambu kepada masyarakat luas.
Biasanya, event Bamboo Biennale berlangsung selama sebulan, dibanjiri pengunjung, tak kecuali anak muda yang berfoto untuk menunjukan eksitensi di medsos. Tak ketinggalan perajin bambu dari dalam atau luar negeri.
Namun, karya Seniman Joko Avianto ini diperkirakan bertahan 6-12 bulan. Seperti yang diungkap Bapak Gubernur, itu justru jadi hal menarik dengan tujuan baik.
Tapi apakah mampu menarik perhatian masyarakat layaknya festival Bamboo Biennale? Itu tergantung persepsi masing-masing.
Nah, pertanyaannya, ketika garapan instalasi bernama 'Getah Getih' yang telah dibangun dengan bantuan 10 BUMD berbiaya sekitar Rp 550 juta ini sudah berdiri kokoh, apakah sudah mampu menggambarkan pesan yang ingin disampaikan oleh Bapak Gubernur?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H