Aku memandangi kepergiannya dari bukit kecil di belakang rumah; di tengah sawah peninggalan bapak yang mungkin saja juga peninggalan kakek; dan di antara bunga cantik berwarna kuning cerah yang bau dan bunga merah cerah yang tak berbau.Â
Rumah telah ia bersihkan sendirian sejak subuh tadi. Bolong di kantung bajunya dan kerudung kusut yang selalu dipakainya selalu menemani perempuan pengganti bapak itu.Â
Setiap hari aku melepas kepergiannya dengan perasaan bahagia, sesuai janjinya ia akan membawakanku boneka yang bisa kuikat rambutnya, dan ia mengangguk seperti biasa.Â
Aku tidak tahu betul makna anggukan dan senyum itu, tapi setiap sore ia hanya pulang membawa senyumnya saja. Entah bagaimana, aku akhirnya tersenyum juga tanpa bertanya di mana si boneka, untuk besok kusampaikan lagi sebelum kepergiannya seperti biasa bahwa aku ingin boneka yang bisa kuikat rambutnya.Â
Sepulangnya ia akan tersenyum lagi, senyuman terhangatnya, dan aku tersenyum juga, senyum pengharapan semoga besok bonekanya ada.Â
Begitu seterusnya sejak umurku baru di tahun kedua, dan entah sampai kapan nantinya. Suatu hari aku ingin ikut dengannya, setelah menutup pintu tanpa menguncinya aku melangkah beberapa jarak di belakangnya.
Ia berhenti di depan rumah kayu, kulihat ia sedang berbicara seuatu dengan perempuan juga tapi lebih tua sedikit dari ibu.Â
Mereka berbicara seolah mereka baru saja bertemu, lalu kuanggap saja memang mereka baru bertemu kala itu: Ibu mengangguk-angguk dan perempuan itu berbicara dengan gaya seperti guru sedang mengajari muridnya, ibu mengangguk lagi lalu perempuan itu masuk ke rumah kayunya.Â
Aku masih berdiri di tempatku di balik pohon bambu, aku takut ibu marah kalau tau aku ikut dengannya, lebih baiknya ibu tidak tahu, aku juga tidak tahu mengapa aku ingin ikut dengannya hari itu; mungkin karena bosan main di rumah sendirian, atau ingin tahu kenapa boneka mainan itu belum juga ibu belikan, atau karena kerudung kusut dan kantung bolong di baju ibu sudah tidak lagi dikenakan.Â
Iya, hari itu baju ibu baru, bagus, dan wangi. Ibu menjadi terlihat lebih cantik dari perempuan yang mirip seorang guru tadi, yang sekarang sudah muncul di pintu lagi.Â
Mereka bercakap-cakap sesekali tersenyum, mengagguk, ibu mulai tidak terlihat kaku, ibu mulai lancar bercerita dengan menatap perempuan itu; ibu tidak lagi mengangguk dan menunduk.Â