Mohon tunggu...
lady  anggrek
lady anggrek Mohon Tunggu... Wiraswasta - write female health travel

Suka menulis, Jakarta, Blog: amaliacinnamon.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Si Cokelat Manis

5 Juli 2018   22:26 Diperbarui: 5 Juli 2018   23:18 751
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://yp.scmp.com

Sudah lama sekali tak bertemu dengan keponakanku, Mas Andrian setelah 4 tahun lamanya. Dia sudah sangat berbeda ketika kami tinggal bersama di Solo. Tubuhnya semakin lama semakin berubah. Bahkan perutnya semakin maju ke depan saat bertemu di acara keluarga.

Ada satu hal tak pernah kulupakan yang melekat darinya. Warna kulitnya tak berubah. Masih seperti dulu hitam pekat seperti Cokelat Manis. Aku sering mengejeknya begitu. "Mas Andrian, Mas Andrian Si Cokelat Manis." Teriakku kepadanya saat bercanda ketika di Solo. Tapi manisnya tidak terlalu, sih.

Dia membalas dengan mencibir mulutnya dan kedua mata melotot. Namun tentu saja Si Cokelat Manis dengan kacamata menghias di wajahnya yang bundar, Tak dapat membuat nyaliku menciut. Semakin lama semakin membuatku mengerjainya.

Kami berdua sama-sama kuliah di Universitas Sebelas Maret. Dan tentu saja kami bermusuhan. Kami berdua tinggal bersama dalam satu rumah. Saya tinggal dengan keluarga almarhum  Bapak. Keponakanku, Si Cokelat Manis salah satunya.

Agak kaget juga waktu bertemu lagi dengannya dalam acara keluarga. Dia mau menikah di bulan September. Sang calon istri bernama Kristina  hadir di rumah Mbak Senja pada hari Sabtu minggu ini. Mbak Senja itu adalah Adik ipar almarhum ayahku. Dan ia mempunyai anak tunggal bernama Adit. 

Tubuh Adit besar dan gemuk sekarang dia sedang mengerjakan skripsi. Adit juga sering bercanda, Lho. Kalau mereka berdua bertemu seperti pasangan lawak. Ada saja yang dilakukan oleh mereka berdua. "Kalau gak ada loe gak rame." Motonya di keluarga almarhum Bapak seperti itu. Kami berkumpul   dan saling bercerita pengalaman masing-masing.

Namun selama acara berlangsung ada sikap yang khas dimiliki oleh mereka. Adit kalau makan piringnya berbeda. Piring makannya dua kali lebih lebar daripada piring makan biasa. Ternyata aku juga terkejut dengan kedatangan Tante Mira. Berangkat dari Solo jam enam pagi dan membawa Ayam Goreng Widuran. Biasanya di dalam kardus Ayam Goreng Widuran ada kremes-kremesnya. Tante Mira suka es kopi.

Dan lagi-lagi aku mengejek Cokelat Manis. "Wah, Warna kopinya sama dengan warna kulitmu, Mas Andrian. Si Cokelat Manis." Kristina, Pacarnya tertawa mendengar ejekannku. "Biarin! Daripada kamu gendut." Katanya. "Tahu tidak lebih baik gendut daripada hitam seperti kamu." Balasku mengejek. "Lagipula perutku masih lebih langsing daripada punya kamu." Sambil mengelus perutku.

"Kalau gendut tetap saja gendut, Huhh." Katanya kesal. Tante Mira langsung menyahut." Walah...Walah ketemu lagi, deh. Musuh bebuyutan Nih, Yee.  Musuh lama dari Solo." Hmm.. Dasar Si Cokelat Manis seperti biasa dia mencibir dan kedua mata melotot. Hmm... Itu sih hal biasa.

Namun Adit, dengan tubuh paling besar juga miliki sikap curangnya. Tidak disangka-sangka memang.  Karena Kremes untuk Ayam Goreng biasanya ada empat bungkus kecil. Dia menyembunyikan kremes dua bungkus disembunyikan di kantung celananya. Keponakan dan sepupu aku bahkan bingung mencari si kremes-kremes menghilang kemana. Eh, Ternyata disembunyikan sama Adit. Aduh... Aduh... Biyung. Si Adit badannya besar ternyata suka mengerjai orang.

 "Hmm... Dasar Aditya. Ternyata kamu pelakunya." Teriak Tante Mira. "He he he, Iya dong." Katanya sambil mesam-mesem. Tidak hanya itu saja, Lho. Bahkan roti bolu keju yang kubawa dari rumah jadi rebutan mereka. Tidak disangka Tante Mira, Mbak Senja dan Adit suka roti yang kubawa. Berkat Si Cokelat Manis kami bisa berkumpul kembali di Jakarta.

Mas Andrian, keponakanku sudah dewasa kini. Sekarang dia sudah bekerja di salah satu perusahaan TV Swasta. Tinggal di kos-kosan dan miliki sepeda motor sendiri. Bahkan seperti yang saya bilang dia mau menikah di bulan September nanti. Selama dia tinggal di Solo ada saja perbuatannya yang membuatku dan keluarga geleng kepala. Berbeda dengan kakak kandungnya yang alim dan santun. Kalau Si Cokelat Manis. Hmm... Banyak perbedaannya tidak bisa diam dan yang paling utama mendengar dia sering dimarahi oleh Budeku. Namanya  Bude Ayu.

Alamakk... Banyak sekali omelannya yang kudengar. Bude Ayu sering menegur Mas Andrian. Bangun tidur kesiangan dan kalau diberitahu Bude tidak mau mendengar. Aduh... Ada saja perilakunya yang membuat Bude Ayu sering marah dan kesal. Bahkan sungguh banyak sikapnya yang kurang bertanggung jawab. Tapi kini ia sekarang tinggal di Jakarta. Waktu telah memberikan kesempatan bagi Cokelat Manis untuk lebih baik. Dia melanjutkan kuliah lagi dan sekarang bekerja sebagai IT di perusahaan televisi swasta.

Selama ini aku sering memperhatikan Si Cokelat Manis di media sosial instagram. Bagaimana kegiatan sehari-hari yang dilakukannya. Salah satunya beberapa waktu lalu saat ada konser musik Katy Perry. Ada salah satu video yang paling aku suka lihat. Si Cokelat Manis menari seperti Michael Jackson dengan pakaian adat Jawa. Lengkap menggunakan Blangkon dan keris ditaruh belakang punggungnya.

 Aduh, Michael Jakcson versi Cokelat Manis Solo. Tidak hanya warna kulitnya yang hitam rambutnya juga keriting. Aku sering menontonnya saat aku senewen. Videonya lucu dapat menghibur aku di kala penat. "Gila, Lucu banget. Itu Saudara kamu, Alea?" Tanya kawan sekantorku. Dia mengintip apa yang aku lihat. "Iya, Ini sepupuku. Dia memang gokil orangnya."

Kembali aku melihat video klipnya. Aduh, Benar-benar luwes gerakannnya. Gerakan kaki dan tangannya benar-benar mirip Michael Jackson. Hmm... Musuhku, Keponakanku, Si Cokelat Manis namanya. Namun tidak terlalu manis saat berjumpa. Memang begitu dirinya terkadang menyebalkan saat berjumpa namun kenangan manis tersimpan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun