Mohon tunggu...
Lia Melankolia
Lia Melankolia Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Tulis, tulis, dan tulis

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Waktu-Pengetahuan-Uang, Biar Hidup Lebih Maksimal

12 September 2023   13:42 Diperbarui: 13 September 2023   19:34 881
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi mencari cuan lewat online | pexels.com/mikoto.raw Photographer 

Sebagai orang yang cukup lama menganggur, saya agak merasa nyesek juga dengan nasib yang saya alami. Waktu kemarin saya kuliah, sebenarnya ngapain saja ya? Hmmm....... Oh, iya ternyata memang orangnya kurang koneksi dengan orang lain.   

Setelah dipikir-pikir kebanyakan orang lain mendapatkan pekerjaan karena punya koneksi dengan yang bersangkutan. Oke, setiap orang memiliki rezeki masing-masing, privilege masing-masing, menggerutu terus-menerus sudah saya lakukan. Dan kalau kelamaan menggerutu sebenernya, apa yang saya dapatkan? Ya, saya tidak mendapatkan apa-apa. Ya, saya tidak mendapatkan capaian yang diinginkan karena terlalu lama melihat faktor eksternal. 

Kalau dipikir-pikir lagi, saya ternyata kemarin masih mencari jati diri. Saya merasa, waktu sekolah kemarin banyak lika-liku yang saya alami. Mungkin orang lain melihat saya, sebagai pribadi yang lempeng-lempeng saja menjalankan hidup. Tapi, saya merasa naik-turun, layaknya naik roller coaster yang kencang, memicu adernalin dalam tubuh. 

Adrenalin pemicu stres dalam tubuh. Kadang ada pikirkan ingin menyumbat hormon adrenalin, tapi tidak bisa. Orang hormon adernalin bekerja secara impulsif, yang tidak bisa diatur oleh pikiran saya sendiri.

Apakah saya harus mencintai nasib saya, yang tidak sesuai harapan itu dengan istilah amor fati. "Mencintai takdir seburuk apa pun takdirmu". Itulah kata yang diucapkan Nietzsche filsuf kenamaan. 

Saya harus mencari jalan saya sendiri. Saya perlu menentukan rezeki dengan segenap daya upaya yang saya miliki dan saya kerahkan. Saya membuka internet, baik itu socmed maupun googling setiap jamnya, baik itu untuk nyari pekerjaan maupun membuang waktu yang tidak perlu. Sampai jari tangan merasa linu. Saya mencari tahu bagaimana saya bisa mendapatkan cuan yang saya butuhkan itu. Hingga akhirnya saya menemukan ide bahwa jika ingin mendapatkan uang, perlu dua alat tukar ini, yakni waktu dan ilmu. 

Coba yuk maksimalkan tiga alat tukar ini sebaik mungkin.

Ilustrasi maksimalkan hidup untuk bisa terarah | pexels.com/Andrea Piacquadio
Ilustrasi maksimalkan hidup untuk bisa terarah | pexels.com/Andrea Piacquadio

Saya seorang yang memiliki banyak waktu luang. Saya memiliki energi yang cukup besar karena yah saya memang masuk kategori angkatan kerja berusia produktif. Namun, sayangnya saya tidak memiliki uang. Mungkin kalau menurut kategori yang diterapkan oleh BPS melalui pembaharuan data yang disampaikan pada tanggal 17 Juli 2023, pendapatan di bawah Rp 600.000,- per bulan itu sudah dikategorikan sebagai orang miskin. 

Untungnya saya tinggal di rumah, jadi ditanggung oleh orang tua. Bukan untung sih, tapi buntung. 

Saya pikir secara matang-matang, pengetahuan atau keterampilan yang sudah saya pelajari ketika saya berkuliah. Oh, planning dan organizing ketika akan adanya pertemuan organisasi maupun makalah secara berkelompok yang ditugaskan oleh pak dosen. Skill semacam ini yang saya peroleh dan saya tempa di bangku kuliah. Dengan adanya peluang digital marketing yang di depan mata, saya kolaborasikan skill planning dan organizing ini. 

Tiga alat ukur, berupa: waktu, uang, dan pengetahuan yang terbilang ampuh ini. Dapat kita gunakan semaksimal mungkin. 

Jika kamu seorang pekerja yang tentunya selalu banyak tuntutan kerja, baik itu harus masuk sesuai jam kerja yang sudah ditentukan, target kerja, atau arahan dari atasan, tentunya perlu istirahat agar merehatkan di kala lelah. Kamu yang memiliki alat ukur uang dan pengetahuan pasti membutuhkan "waktu" untuk rehat sejenak dari aktivitas kerja. Jadi, adanya pertukaran dari membutuhkan "waktu" dengan pengetahuan dan uang. 

Jika kamu seorang pelajar/mahasiswa yang sedang menimba ilmu, kamu perlu pengetahuan. Tentunya kamu wajib memiliki alat ukur: waktu dan uang, agar proses menimba ilmu dapat berjalan dengan lancar. Karena menimba ilmu membutuhkan uang untuk membeli buku, ongkos ke sekolah. Ataupun jika mahasiswa dari luar kota, yang memungkinkan kamu untuk ngekos, tentunya ada biaya kos. Biaya-biaya tersebut bisa kamu dapatkan dari orangtua atau beasiswa yang disediakan oleh sekolah/perguruan tinggi. Jadi, adanya pertukaran dari membutuhkan "pengetahuan", menukarnya dengan waktu dan uang. 

Beda lagi dengan yang sudah pensiun. Para bapak/ibu yang pensiun yang sudah memiliki bekal pengetahuan dan uang, bisa menukarnya dengan "waktu". Karena energi dalam tubuh sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja, " Waktu" lah yang paling dibutuhkan. 

Jadi, tiga alat ukur ini untuk semua kalangan, baik usia produktif maupun untuk yang sudah pensiun. Yuk maksimalkan sebaik mungkin, agar hidup lebih maksimal dan sehat. 

Referensi:

CNBC Indonesia. 19 Juli 2023. Jangan Kaget! Penghasilan Segini di RI Dianggap Orang Miskin. Kategori Miskin di RI : Pengeluaran di Bawah Rp 17.851 / Hari. https://www.google.com/amp/s/www.cnbcindonesia.com/news/20230719095940-16-455592/jangan-kaget-penghasilan-segini-di-ri-dianggap-orang-miskin/amp

Finplan. Id. 31 Mei 2022. Kamu Cuma Punya 3 Alat Ukur. https://www.instagram.com/p/CeNaw-bpvo0/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=MzRlODBiNWFlZA==

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun