Dengan berkembangnya globalisasi dan era digital yang sedemikian rupa, menjadikan banyak sekali forum-forum diskusi mengenai agnostikme di media social yang mulai bermunculan yang membuat penyebaran paham agnostikme semakin meluas di Indonesia.
Rata-rata mereka yang memutuskan untuk menjadi agnostik berada di usia labil dan cenderung ikut-ikutan karena dianggap keren dan gaul.
Fenomena ini juga disebabkan kurangnya pemahaman yang diberikan orang tua mengenai Ketuhanan kepada anak mereka. Orang tua cenderung mengabaikan pertanyaan tentang eksistensi Tuhan.
Agnostikme dalam kacamata Agama
Jika dilihat menurut kacamata Agama, seorang agnostik terkesan seperti orang orang yang munafik dan penuh keragu-raguan.
Dibutuhkan keyakinan dan totalitas yang besar jika kita ingin memeluk suatu agama. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh para penganut paham agnostikme. Agnostik sendiri bak seseorang yang berdiri di tengah-tengah jembatan. Alih-alih menyeberangi jembatan tersebut, mereka malah menjadikan hal ini sebagai titik akhir perjalanan spiritualnya.
Menurut pandangan saya, seseorang yang mencap dirinya agnostik sejatinya mereka hanya belum mendapatkan jawaban mengenai eksistensi Tuhan. Alih-alih mencari jawaban kepada pemuka agama, mereka hanya memutar logika mereka sendiri dan mengabaikan segala bentuk wahyu maupun kitab.
Mayoritas agama di Indonesia menolak prinsip mempercayai adanya tuhan namun menolak peribadatan. Karena beribadah sendiri merupakan bentuk kita mempercayai tuhan yaitu dengan melaksanakan perintah yang terdapat dalam agama yang dianut.
Seperti contohnya dalam agama islam yang menyebutkan bahwa salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Adz Zariyat: 56 yang artinya "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku". Maksudnya bukan berarti seorang muslim harus setiap detik menunaikan sholat. Namun jika kita melakukan suatu pekerjaan yang baik dengan niat ibadah, maka hal tersebut akan berniat ibadah.
Agnostikme dalam Kacamata Pancasila
Pada sila pertama dari Pancasila menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang mengakui adanya Tuhan dan memperbolehkan warga negara menjalankan peribadatan sesuai agama yang di anut.
Memeluk agama sendiri merupakan salah satu hak warga negara yang dijamin oleh pemerintah dalam UUD Pasal 29 Ayat (2) yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing.