Memangnya ayah mana yang tak ingin dikagumi oleh putrinya? Rasa-rasanya tidak. Semua ayah pasti ingin dikagumi oleh anak-anaknya, terutama seorang putri.
Salah satu aspek yang paling diperhatian seorang putri terhadap ayahnya adalah apakah ayahnya adalah ketegasannya.
Ketegasan dalam hal apa saja perlu dimiliki seorang ayah dan tidak jarang akan dicontoh oleh putrinya. Ketegasan dalam mengejar karier, memilih teman, hingga hal kecil lainnya pun terkadang sangat dikagumi oleh putri tercinta.
Artikel terkait rahasia seorang ayah yang ingin dikagumi putrinya ini menjadi salah satu konten populer di Kompasiana, Minggu (25/20/2020).
Selain itu, ada juga kisah seorang kurir yang mengisahkan antara profesinya dan sebuah desa tua yang hampir berusia hampir 300 tahun.
Berikut kumpulan artikel populer di Kompasiana:
Ini 3 Rahasia agar Ayah Dikagumi Putrinya
Ayah sedang bermain dengan putrinya (sumber: pexels/Tatiana Syrikova)

Salah satu tantangan umum seorang ayah tentu saja adalah waktunya yang minim dibandingkan seorang ibu. Alasannya terkadang cukup logis yaitu bekerja dan sejenisnya.
Kalau sudah tahu ini adalah tantangan seorang ayah, maka ketika Anda sebagai ayah sedang kosong dari pekerjaan Anda, atau sedang akhir pekan, maka luangkan waktu total Anda bersama putri tercinta. Waktu ini sangat penting bagi hubungan ayah dan putrinya (Baca selengkapnya)
Chefchaouen, Kota Biru yang Menawan Hati di Maroko
dok. Tony Syiariel

Mendengar nama negara Maroko, kita mungkin langsung teringat nama kota-kota terkenal seperti Rabat, Casablanca atau Marrakech. Namun, pernahkah mendengar nama Chefchaouen?
Chefchaouen, yang sering dijuluki "Kota Biru", adalah sebuah kota kecil di barat laut Maroko.
Jika Anda penyuka warna biru, inilah kotamu. Dan cara mudah untuk mengetahui seberapa biru Chefchaouen... (Baca selengkapnya)
Kenali Jurang Kesenjangan Pekerja Menuju Tahun 2030
ilustrasi: davegranlund.com

Hasil riset yang dilakukan oleh lembaga konsultan dunia yaitu McKinsey and Company tentang peta masa depan pekerjaan di Indonesia sangat menarik.
Ini bisa menjadi rujukan bagi semua pihak yang memberikan perhatian serius pada dunia pekerjaan yang harus dicermati dan diantisipasi sebagai peluang bagi Indonesia.
McKinsey telah membuat pemetaan dan perkiraan kondisi pekerjaan di Indonesia, dimana jelang tahun 2030 akan ada sekitar 23 juta pekerjaan yang hilang dan/atau akan tergantikan oleh automasi (Baca selengkapnya)
Segarnya Cacapan Asam, Penggugah Selera Makan Bercita Rasa Demokratis dari Bumi Banjar
Cacapan Asam dan Ikan Teri Goreng Kering | @kaekaha

Kekayaan tradisi kuliner dari tanah Banjar di bumi Kalimantan, seperti halnya budaya kuliner dari bumi nuasantara lainnya, memang tidak akan ada habisnya untuk terus dibedah dan diapresasi.
Tidak hanya keragaman dan keunikannya saja yang sudah kesohor dan pastinya mejadi daya tarik pesonanya, tapi juga kebermanfaatannya dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Salah satu tradisi kuliner identik khas masyarakat Banjar yang sepertinya mempunyai identitas spesifik seperti di atas dan juga bisa diadaptasi oleh seluruh masyarakat di penjuru nusantara adalah cacapan asam (Baca selengkapnya)
Catatan Seorang Kurir: Antar Paket ke Desa Tua Berusia Hampir 300 Tahun
dok. Oktavian Balan

Desa ini memiliki kisah unik, terutama di baliknya penamaan desa Salimbatu.
Pada saat itu, datang seorang dari sulu Filipina yang bernama Syekh Maulana Al-Maghribi. Konon, saat kedatangannya masyarakat dengan rasa penasaran mencoba memulai dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan pada umumnya.
Namun, orang tersebut yang notabenenya merupakan wali hanya menjawab, "Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
Namun, karena masyarakat setempat belum memeluk agama pada saat itu, salam yang di ucapkan oleh Syekh Maulana Al-Maghribi ahkrnya tak terbalaskan. Namun, saat itu juga bebatuan tempat di mana Syekh Maulana Al-Maghribi berpijak bergetar (Baca selengkapnya)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI