Jika demokrasi adalah jalan menuju kesejahteraan, tulis Kompasiner Julius Deliawan, maka rakyat memiliki ruang memadai untuk mengembangkan segala potensi yang mereka miliki.
Demokrasi merupakan jalan di mana setiap individu memiliki kesetaraan pada akses-akses ekonomi, tidak hanya pada akses politik.
Setelah 32 tahun berkuasa, Suharto benar-benar turun dari tampuk kekuasaannya. Pengunduran dirinya ketika itu menghasilkan histeria para penentangnya.
Untuk alasan itulah reformasi dilakukan: memberi ruang yang sangat luas bagi demokrasi.
"Tetapi bagaimana dengan hegemoni rezim yang terlanjur dihidupi oleh para pelaksana dari bentuk baru ketatanegaraan kita?" lanjutnya.
Setelah 22 tahun reformasi, menurut Kompasiner Julius Deliawan, reformasi hanya mengubah wajah, memoles muka, tanpa mengubah paradigma. (Baca selengkapnya)
5. Membandingkan Penghasilan Menjadi Ghostwriter dengan Menulis Buku Sendiri
Kompasianer Yana Haudy memulai tulisannya dengan sebuah pertanyaan menarik: berapa royalti yang kita dapatkan dari penerbit untuk buku yang kita tulis?
Sejauh pengamatannya, jika memakai sistem royalti maka penulis debutan biasanya dapat 5 persen dari harga buku. Akan tetapi tergantung, jika penulis menganggap naskahnya memang cukup bangus, ia akan melakukan negosiasi royalti hingga 10 persen.
Lantas bagaimana dengan profesi sebagai ghostwriter?
"Pada 2006 saya menulis untuk seorang veteran yang ingin menulis buku pengalaman beliau sebagai pejuang," tulis Kompasianer Yana Haudy menceritakan pengalamannya.
Soal penghasilan, lanjutnya, bayaran ghostwriter memang (sedikit) lebih besar daripada jika kita menulis buku sendiri lalu menunggu royalti.