Bulan setengah bundar menepikan senja,juga menepikan hati yang tak pernah berhenti menandaimu,
meskipun terbata-bata
"Sendirian?" sambut Bunda sepulangku dari siaran. Suaranya seperti mengkhawatirkanku.
"Ya," jawabku tanpa melihat  sosok perempuan teduh yang kupanggil bunda. Ingin rasanya segera menghambur ke pelukannya dan menumpahkan rasa yang meletup-letup sejak di ruang studio tempatku cuap-cuap tadi. Tapi, akh...kuurungkan saja.
"Mau mandi dulu,Bun" kataku meraih handuk sambil menjawil sepotong tempe mendoan saat melewati meja makan.
"Eits...tangan masih kotor, sudah ambil makanan. Mandi dulu,gih. Habis itu makan deh," Bunda mengingatkanku dengan lembut. Aku tersenyum hangat dan mendaratkan ciuman sayang di pipinya.
Bundaku terlalu pandai membahagiakan keluarga. Menu sarapan, makan siang dan malam selalu berganti. Dan kali ini, aku mencium gurihnya sayur lodeh dan ikan goreng lengkap sambalnya, yang sempat kuintip dari lubang tudung saji. Hmmm...
Lima belas menit untuk keramas, menyegarkan setiap debu yang melekat dan setiap lelah yang mendera, bagiku sudah cukup. Setelah sisiran dan menaburkan bedak bayi yang harum mewangi, aku bergegas menuju meja makan.Â
"Bun...Bunda, makan yuuk," ajakku semangat, maklum sudah lapar.Â
Tidak ada jawaban.
"Bundaaaa..." panggilku agak gencar sembari mencari ke  kamarnya. Tidak ada juga.Â
Bergegas ke ruang tamu, tidak kutemukan Bunda. Ternyata terdengar percakapan dari  teras depan, dan Ups...
Aku berbalik seratus delapan puluh derajat. Rasa laparku entah terbang ke mana.Â
"Natya, sinii sayang," panggilan Bunda menghentikan langkahku.Â
"Tidak baik menampik teman yang datang bertamu," lanjut Bunda.
Teman? Tamu?Â
Seberapa pantas lagi dia datang menemuiku? Bukankah Bunda sudah mengetahui semuanya? Lalu kenapa Bunda masih bisa bermanis-manis dengan dia? Kusesali kepulanganku terlalu cepat sehabis siaran tadi. Seharusnya aku menerima ajakan Dian untuk menemaninya memilih-milih perlengkapan bayi yang akan segera dilahirkannya. Maka, aku pasti akan pulang lebih malam dan tidak bertemu dengan tamu ini.Â
Empat  hari lalu, Bunda memang sempat cerita, kalau ada teman yang bertamu dan ingin menemuiku. Tapi, Bunda tidak katakan nama temanku itu, selain menyampaikan dia akan datang lagi. Sayangnya, aku tidak ingat dengan cerita Bunda itu.Â
Bunda beranjak menemuiku.
"Please,Bun. Kenapa Bunda terima dia?" air mataku menyeruak perlahan.Â
"Kenapa, Bunda ga bilang aja, kalau aku masih di luar?" gugatku.
"Natya, belajarlah menghadapi kenyataan," ibuku mengusap air mata yang tak lagi bisa kuajak kompromi.Â
"Ga bisa,Bun. Natya ga bisa..." aku menghamburkan tangisanku di bahu perempuan pemilik keteduhan hatiku. Tiga tahun bukan waktu pendek untuk menyembuhkan luka batin yang berdarah-darah.
Bunda melepaskan pelukanku, mempersilakan Rayya masuk dan meninggalkan  kami berdua di ruang tamu.Â
Sunyi. Tak ada yang memulai, dan aku tak ingin pula memulai. Harusnya, kuusir dia, kumaki-maki atau apalah yang sejenis dengan luapan amarah dan kecewa, tapi aku memilih diam. Aku terlalu lelah dengan semua tentangnya. Mungkin hari ini adalah hari terbaik buatku, walaupun aku sudah tak menginginkan demi dan atas nama apapun dalam hidupku.
"Tampar aku, Tya, Maki-maki aku, Tya, atau apapun yang ingin kau perbuat untuk silih segala dosaku," dia berlutut di depanku.Â
Jiwaku bergetar. Sungguh, lelaki di hadapanku ini pernah sangat kupuja, sangat kusayang dan sangat kuhargai. Sejak kuliah hingga wisuda, kami selalu mengukir kenangan manis. Segala janji tentang kebaikan masa depan hidup sudah kami sematkan di hati, pikiran dan perasaan. Bahkan, kami saling suport untuk mendapatkan pekerjaan selepas wisuda. Dia memperoleh pekerjaan yang cukup bagus sebagai akunting di perusahaan ternama, namun sayang kami harus terpisah jarak. Dia bekerja di ibu kota propinsi, sementara aku diterima sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi, tetap di kotaku ini. Tetapi, manusia hanya bisa berencana, selebihnya urusan Dia, sang pemilik kehidupan.Â
Segala rencana indah tentang kehidupan berumah tangga harus berhenti pada tanda titik, lantaran Rayya memutuskan jalinan hati secara sepihak, dengan alasan tidak sanggup LDR. Padahal, belum setahun dia bekerja di perusahaan tersebut. Tapi aku mencium aroma ketidaksetiaan. Dan benar, seorang sahabat mengabarkan bahwa Rayya telah menduakan aku. Hatiku patah. Tak pernah kusangka, begitu gampang dia berpindah ke lain hati. Seperti sia-sia semua perjalanan empat tahun di kampus bersamanya. Aku menjadi tak percaya lagi pada sebuah relationship.
"Tiga tahun lalu, aku terlalu bodoh meninggalkanmu,Tya. Â Tiga tahun pula aku sesali." Rayya mulai mencerca dirinya sendiri.Â
"Maafkan aku,Natya," dia mencoba meraih tanganku. Aku menghindar halus.
"Duduk saja, Rayya. Tak usah berlutut." balasku dengan mencoba kuat. Terngiang kata-kata ibu untuk belajar menhadapi kenyataan.
"Aku tak memerlukan penjelasan apapun lagi,Rayya. Aku juga tak ingin tahu, apa maksud kedatanganmu," kali ini aku berani menatap matanya. masih dengan mencoba kuat.
 "Aku sudah memaafkanmu sejak hatiku kau patahkan."Â
"Natya..."
"Tidak perlu menemuiku lagi,Rayya. Â Aku sudah memiliki kehidupan sendiri," perasaan nyaman dan damai mengaliri seluruh nadiku.Â
Aku yakin, senyum dan kehangatan cinta Mas Arga menemani perkataanku. Selingkar cincin pertunangan adalah jawaban atas masa depanku, kelak bersama Mas Arga, jika Tuhan mengijinkan. Sudah setahun ia bertakhta di jari manis kiriku.
Kupersilakan Rayya menikmati secangkir kopi yang disuguhkan bunda sejak tadi. Dulu, aku sering membuatkannya untuk Rayya , kalau kami membuat tugas-tugas kuliah di ruang tamu atau di teras depan.Â
Dia tidak meminum kopi buatan Bunda. Hanya menatapku lekat. lalu sunyi kembali menyebarkan auranya. Mungkin, hari ini adalah hari terbaik buatku, walaupun aku sudah tak menginginkan demi dan atas nama apapun dalam hidupku.
Rayya, terlalu manis perjalanan empat tahun  menyelesaikan kuliah dengan kekuatan cinta dan dukungan kasih sayang kita. Tapi, cukuplah tersimpan sebagai kenanganmu. Kelak, menjelma sebagai butiran debu...
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI