Oleh karena itu, kejujuran 100 persen menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai. Ujian Nasional kali ini diharapkan menjadi salah satu sarana Revolusi Mental yang menjunjung tinggi integritas.
Revolusi Mental ini berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa. Berbagai penyakit bangsa harus dihilangkan seperti korupsi, suap menyuap, dll. Dan salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan tidak mencontek, menghilangkan plagiarisme, juga dengan memperlihatkan kejujuran di Ujian Nasional.
3. Kembalikan UN Sebagai Indikator Mutu, Bukan Syarat Kelulusan
UN seharusnya menjadi jembatan emas siswa untuk meningkatakn kompetensi. Itulah yang dikatakan MJK Riau. Ia menambahkan sejatinya, UN adalah jalan untuk meneguhkan komitmen untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sayangnya, UN kerap dilihat sebagai hal yang menakutkan sehingga jalan irasional sering diambil para siswa. Tidak sedikit siswa yang menempuh jalan gelap dengan cara jual beli kunci jawaban atau soal.
Bukan prestasi tinggi yang didapat dari kerja gotong-royong atau situasi kondisi pragmatis lainnya. Kejujuran adalah modal utama. Namun demikian perlu ada langkah terobosan untuk mempersiapkan mental para siswa dalam menghadapi Ujian Nasional.
Ada banyak usaha untuk persiapan ini seperti pendekatan pengembangan sekolah yang ramah anak, menghilangkan kekerasan di lingkungan sekolah, juga komitmen tinggi terhadap perhatian pada anak didik yang terus dikembangkan.
Kemudian yang paling penting adalah aturan. Aturan perlu diterjemahkan secara benar dan dilaksanakan untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan, bukan untuk menghantui masyarakat atau siswa. Maka sudah selayaknya aturan bisa mengembalikan UN sebagai indikator mutu, bukan syarat kelulusan siswa.
4. Ujian Nasional: Kita Terjajah Neoliberalisme!
[caption caption="Ilustrasi Ujian Nasional. Sumber: Tribunnews.com"]
Ketika membicarakan Ujian Nasional mungkin tidak banyak yang tahu bahwa UN adalah wuud sistem pendidikan yang di bawah kendali kaum kapitalis neoliberal. UN adalah manifestasi dan bagian dari rezim High-Stakes Testing yang diselenggarakan untuk kepentingan akuntabilitas dan efisiensi.
Kedua prinsip ini (akuntabilitas dan efisiensi) sebenarnya adalah karakteristik dua korporasi managerialist yang berorientasi pada keuntungan. Dengan tujuan akhir adalah hitung-hitungan untung-rugi.
Sederhananya, ini adalah tuntutan pemilik modal terhadap yang berhutang agar yakin bahwa modal yang dipinjamkan ada hasilnya. Sehingga, mereka tetap mau berhutang karena dianggap satu-satunya jalan untuk memajukan pendidikan.