Cukup masuk akal bukan?
Sebenarnya tidak, karena pada tahun 2007 saat aku menghentikan usahaku, minat beli buku masyarakat kota kelahiranku masih cukup besar. Toko buku masih menjadi pilihan berbelanja masyarakat.
Lagi pula pada saat itu, e-commerce masih menjadi barang asing. Medsos belum seagresif hari ini. Membaca secara daring masih belum menjadi kebiasaan.
Lalu, masalahnya di mana?
Aku sudah mulai "putus asa" sejak 2007. Itu karena bisnis yang kujalani sudah mulai menampakkan gejala-gejala membahayakan. Lebih besar pasak daripada tiang.
Aku sudah tidak bisa menjaga pertumbuhan yang stabil setiap tahunnya. Itu karena kelengkapan buku mulai berkurang. Usahaku sudah mengalami kekurangan modal kerja. Efek lanjutannya, toko mulai sepi dan ditinggalkan pelanggan.
Pertanyaan sederhana, mengapa tidak melakukan pembaharuan saja. Lengkapi stok agar pelanggan tertarik untuk datang kembali. Tidak semudah itu ferguso.
Penyebab utamanya ada beberapa. Mari kita bedah satu persatu.
Stok "Mati"
Sumbernya berasal dari beberapa hal. Yang paling besar adalah dari buku pelajaran sekolah. Semasa saya SD dan SMP dulu, uku pelajaran sekolah harus dibeli di toko buku. Sekolah tidak menyediakan. Namun, pada saat duduk di bangku SMA kebiasaan itu mulai berubah. Tidak perlu capek-capek ke toko buku, karena sekolah sudah menyediakannya.