Dan hal ini sudah berlangsung lama. Lama sekali.
Dalam mitologi Cina Kuno, kelinci juga mendapatkan tempat yang terhormat. Diwakili oleh Kelinci Bulan atau lebih dikenal dengan sebutan Kelinci Giok.
Cobalah kamu, kamu, dan kamu melihat ke arah bulan purnama. Perhatikan dengan seksama. Jika terlihat guratan bayangan, maka itu adalah sosok si Kelinci Giok.
Masih tidak bisa melihatnya dengan jelas? Ah, batin kamu kurang bersih. Terlalu banyak kotoran di sana. Sebabnya bulan bagi orang Tionghoa adalah rumah si Kelinci Giok.
Bagaimana ceritanya?
Ada legenda Kue Bulan. Alkisah di zaman dulu ada 10 matahari. Bumi terlalu panas untuk ditempati. Lalu, muncullah seorang ksatria yang hadir untuk memperbaiki kondisi. Ia mengambil panahnya dan membunuh 9 matahari.
Atas jasanya, Kaisar langit menghadiahkan ramuan keabadian.
Pada suatu hari, salah satu dari murid Hou Yi berkhianat. Ia ingin menjadi dewa. Caranya dengan merebut ramuan ajaib yang disimpan di rumah Hou Yi. Si murid durhaka pun menyelinap masuk saat Hou Yi tidak berada di dalam rumah. Ia bertemu dengan Chang E, istri Hou Yi.
Mengingat konsekuensi jika ramuan sakti tersebut jatuh ke tangan yang salah, tanpa pikir panjang Chang E langsung menegak habis. Tubuhnya ringan dan berpindah ke alam dewata. Chang E menadi sangat sedih.
Kaisar langit pun turut merasa sedih setelah mendengarkan kisah Chang E. Akhirnya ia memutuskan untuk menempatkan Chang E dibulan. Nah, di sini ia ditemani oleh Sang Kelinci Giok.
Hou Yi pun tetap berkesempatan bertemu dengan istrinya. Caranya adalah dengan membuat kue bulan pada setiap penanggalan 1 dan 15 lunar.
Lalu, mengapa Kelinci Giok dan mengapa ia berada di bulan?
Mari kita urutkan lebih jauh lagi. Lebih lama lagi.
Alkisah pada suatu hari, Kaisar Langit menyamar menjadi seorang jompo yang miskin. Ia kelaparan, mengemis makanan dari kera, anjing hutan, berang-berang, dan kelinci.