Ada kuda berbadan kurus, udah dibilang tua masih baca terus...
Naik kereta ongkosnya murah, Eh yang tua mulai marah...
Tidak usah dilanjutin, kalau dibaca emang bikin marah. Eh...
Jelas pantun jenis beginian tidak akan cocok dengan topil mana pun. Anti tesis dari Karewar. Tapi, dengan sedikit kelihaian bersetubuh, Acek mampu menjadikannya Topil
Nah, sebagai contoh kita ambil tiga topil yang berbeda. Nih, kita ulik.
Topil 1 -Â Â dsp mandalika:Â "Naik kuda sambil minum aqua. Eh, Engkong lagi intip bule mandi di Mandalika."
Topil 2 -- keselamatan berkendara:Â "Gatotkaca makin peyot. Eh, Engkong lagi intip bule mandi di jalan raya."
Topil 3 -- kisah mistis:Â "Tidak usah dilanjutin. Eh, Engkong marah kedapatan intip bule lagi mandi."
Gampang kan. Jadi memang harus diakui bahwa membahas topil harus menggunakan kreativitas. Jangan hanya terpaku dengan apa yang sudah ditulis, berfokuslah dengan apa yang belum ditulis.
Nah, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan Engkong ya. Acek masih sayang Engkong (dalam tahap normal). Yang pasti, Acek cuma mau bilang, Engkong tanpa risakan bak sarung tanpa daleman.
Dikunyah sepet, dijilat tawar, ditelan pahit! Amsiong!!!