"Apakah Bapak sudah mempersiapkan pengganti untuk melanjutkan pembangunan?"
Pertanyaan ini diajukan oleh salah satu anggota KNPI kepada Presiden Soeharto, sesaat sebelum Pemilu 1997 berlangsung. Subyek yang peka untuk dibahas pada zamannya. Siapakah calon presiden yang diinginkan Soeharto
Soeharto hanya senyum, dan batuk-batuk kecil. Ia lalu menjawab diplomatis; "Mekanisme sudah ada, orangnya juga sudah ada. Satu dari 180 juta orang Indonesia. Saya tidak berambisi menjadi presiden seumur hidup. Tidak pelu ribut-ribut."
Soeharto lantas kembali bertanya, "kapan saya berhenti?" Mendengarkan pertanyaan tersebut, suasana ruangan berubah tegang.
"Yang pasti, bukan di tengah jalan, kaena itu sama dengan melanggar hukum," lanjut Soeharto sambil batuk-batuk lagi.
Sesaat para anggota KNPI baru tersadar jika Soeharto marah. Salah satu dari mereka pun berdiri dan berkata, "[...] kami berharap bapak bersedia dipilih lagi, keteladanan Bapak sudah Bapak tunjukkan selama ini."
Kisah ini dikutip dari buku, "Sisi lain Istana Dari Zaman Bung Karno Sampai SBY, karya J.Osdar (2014).
Menjelang akhir era Soeharto, pertanyaan dan pernyataan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat adalah, siapakah yang akan menjadi presiden ke-3 RI?
Banyak figur yang sempat mencuat. Di antaranya adalah Sudarmono, Harmoko, Habibie, begitu pula nama Letjen Prabowo Subianto.
Tri Sutrisno sempat muncul ketika ia menjadi Wapres pada periode 1993-1998. Namun, ketika ia tidak lagi terpilih untuk kedua kalinya, spekulasi tersebut pun hilang.
Rumor yang beredar, konon Tri tidak memberikan jaminan kepada Soeharto terhadap keselamatan anak-anaknya, jika ia ditunjuk menjadi pengganti Soeharto. Namun, ini adalah kisah tak berdasar.
Salim Said dalam peringatan HUT ke-82 Habibie (24.06.2019) mengatakan jika sosok yang mencuat adalah mereka yang dianggap tidak memiliki ancaman bagi keluarga Soeharto.
Kendati demikian, saat itu belum ada satu sosok pun yang mengerucut secara resmi, "atas perintah presiden." Bahkan Habibie yang terpilih menjadi Wapres juga bukan calon pengganti.
Keputusan akhir baru kelihatan menjelang akhir-akhir masa pemerintahan Soeharto. Dan ia adalah Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut, putri sulung Sang Presiden sendiri.
Kaum kolonial pasti mengingat manuver politik yang terjadi pada era akhir 90an. Tahun 1996 adalah masa penantian. Ketika Soeharto kembali mencalonkan diri, publik pun kecewa. Tahun 1997 ditandai dengan kerusuhan dan turbulensi ekonomi RI. Soeharto yang terpilih kemudian mengangkat kroni-kroninya dalam jajaran kabinet. Termasuk Tutut yang menjadi Menteri Sosial.
Penunjukan Tutut bukannya sporadis. Soeharto telah mempersiapkannya. Sejak awal 90an, Tutut telah dipandu ayahnya untuk terjun ke dunia politik. Ia duduk dalam kepengurusan DPD Golkar beserta adiknya, Bambang Trihatmodjo.
Jajaran ABRI pun diamankan. Soeharto tidak ingin jika pimpinan ABRI didominasi oleh sebuah figur yang terlalu dominan, seperti Jenderal L.B. Moerdani. Hal tersebut akan menyulitkan Soeharto untuk mengontrolnya.
Sosok yang terpilih adalah Jenderal Raden Hartono. Pertimbangannya adalah karena Hartono juga erat dengan kaum muslim. Ia diharapkan menjadi perimbangan antara kekuatan militer dan massa Islam. Juga yang terpenting, Hartono dianggap sebagai perwira yang loyal.
Kendati senyap, pengaruh Tutut cukup kuat dalam "melenyapkan" lawan-lawan politiknya. Termasuk Gus Dur dan Megawati. Rezim Soeharto takut jika PDI bergabung bersama NU.
Peristiwa Kudatuli pada tahun 1996 menandai aksi paksa rezim Soeharto menjatuhkan kekuatan politik Megawati. Sebelumnya, pada tahun 1994, Gus Dur diserang secara internal dan eksternal menjelang Muktamar NU ke-29.
Megawati berhasil dibungkam, tapi tidak Gus Dur. Tutut pun bermanuver. Ia lantas menggaet Gus Dur pada tahun 1996. Tujuannya untuk menggaet simpati massa Muslim.
Gus Dur yang ingin mengurangi represif politik terhadap NU kemudian bermain cantik. Ia setuju untuk menerima "perdamaian" yang ditawarkan kepadanya. Gus Dur akan berkampanye untuk Golkar, sebagai gantinya "serangan-serangan" kepada NU dan Megawati ditiadakan lagi.
Sampai di sini, apa yang diharapkan oleh Soeharto cukup berhasil. Dua kekuatan besar, ABRI dan Kaum Muslim telah berada pada pihaknya.
Sisa satu langkah terahir, Tutut akan menjadi Ketua Umum Golkar. Kendati ada perlawanan dari kelompok reformis dalam tubuh Golkar, di bawah pimpinan Akbar Tanjung dan Marzuki Darusman, namun itu bukan halangan berarti.
Nampaknya, tidak ada lagi yang menghalangi langkah politik Soeharto untuk meneruskan tongkat kepemimpinannya kepada sang putri sulung. Sayangnya, skenario ini hanya tinggal kenangan.
Pada tahun 1998, kondisi RI berubah kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana, krisis ekonomi menerpa, harga bahan pokok meningkat tajam, dan Reformasi tidak bisa dicegah.
Habibie yang tidak diunggulkan pun terpilih menjadi presiden ke-3. Mengubah wajah negara seperti apa yang kita ketahui hingga kini.
SalamAngka
Rudy Gunawan, B.A., CPS
Numerolog Pertama di Indonesia -- versi Rekor MURI
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI