Namun, ada juga menandai kenangan lampau yang sulit dilupakan (alias tidak bisa move-on). Penulis jomlo biasanya masuk dalam kategori ini.
Mereka yang sering mengungkapkan keresahan kaum muda, baik lewat pengalaman, teori atau aksi. Mereka berbaur dalam kesedihan. Jutaan cinta yang belum terbalas.
Sembari mencari peluang, apakah Kompasiana bisa berubah menjadi situs pencari jodoh?
Dewi Bleweh (Energi Pikiran)
Para pemikir serius yang menyertakan tulisan ilmiah dan sulit diolah adalah di antaranya. Bagi mereka, tulisan adalah sebuah karya ilmiah. Jauh dari kesalahan, baik kata, kalimat, maupun isi. Membaca tulisan mereka bak kembali ke zaman kuliah.
Namun, ada juga penulis yang justru bersikap sebaliknya. Bagi mereka tulisan harus bisa meringankan pikiran.
Tulisan mereka santai dan bergaya humor. Menarik minat pembaca. Melepas stres mengundang tawa. Contoh yang paling sukses di sini adalah Prof. Felix, pencetus Kenthirisme.
Rara Bawuk (Energi Emosi)
Penulis yang bawaannya marah melulu adalah contoh terbaik. Setiap tulisan mereka selalu diisi dengan protes. Judulnya pun selalu tampil provokatif.
Mereka tidak peduli dengan label, berapa banyak pembaca, siapa yang datang berkunjung, pokoknya emosi ditumpahkan dalam tulisan. Di Kompasiana, topik yang sering mereka anggit hanya satu, yaitu kategori Surat Pembaca.
Mereka menggunakan nama samaran, tapi sukses menarik perhatian pembaca. Contohnya banyak; Tante Virus, Mbah Peang, Spiderman XXX, Donald Pret, hingga yang terbaru Tante tralala trilili.
**
Tentu tidak semua benar. Banyak juga Kompasianer lainnya yang sukses membangun branding tanpa mengikuti ke-5 unsur ini.