Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dilema Tukang Parkir di Indonesia, Warisan Sosial Seharga "Goceng"

24 Februari 2021   14:40 Diperbarui: 24 Februari 2021   14:44 1093
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa saat yang lalu...

Memasuki sebuah Kawasan elit di Kota Makassar, saya masih cuek dengan sebuah spanduk yang bertuliskan, "Anda memasuki kawasan parkir elektronik."

Hal pertama yang terlintas adalah di kawasan ini akan terpasang semacam 'parkir meteran' yang bisa diisi dengan koin. Namun, tidak ada tanda-tanda pemugaran yang terjadi di sepanjang kawasan itu.

"Ah, paling-paling uji coba yang tidak jadi lagi dibuat." Begitulah kata hati bergumam.

Namun, pada saat selesai berbelanja di sebuah supermarket, seorang anak muda dengan seragam yang tidak mirip tukang parkir, datang menghampiri.

"Lima ribu pak" ujarnya.

Lho, aku melengok kanan kiri. Tukang parkir yang kukenal terlihat duduk tidak jauh dari lokasi parkir mobilku. Lengkap dengan seragam kebesarannya.

Masih bingung, sang anak muda kemudian menyodorkan semacam mesin EDC kecil dan mencetak struk parkir. Tertera harga 5000 perak. "Oh, ini toh parkir elektronik, yaudah, bayar aja"

Ilustrasi Tukang Parkir (sumber: annafardiana.wordpress.com)
Ilustrasi Tukang Parkir (sumber: annafardiana.wordpress.com)
Keesokan harinya aku masih penasaran. Kembali berkunjung ke lokasi yang sama. Maksudnya ingin "mewawancari" sang tukang parkir sebagai bahan dari artikel ini.

Setelah berbelanja seadanya di supermarket yang sama, aku kemudian mencoba mencari sang juru parkir milenial. Namun, batang hidungnya tidak kelihatan.

Saya pun naik ke mobil dengan harapan ia akan muncul, layaknya tukang parkir pada umumnya. Namun, bukannya sang milenial, tukang parkir "konvensional" yang muncul kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun