"Woiii, pakeko ini masker," Daeng Malla berteriak dari balik pagarnya yang bersebelahan dengan rumah Daeng Rewa.
"Tumben ko pake masker, Daeng, saya kira ko bilang dak apa-apa ji tidak pake masker?"Â Daeng Rewa terheran-heran dengan perubahan sikap tetangganya yang bebal ini.
"Ini to, ada pilihanku, dia mi ini, walikotaku, cess," Daeng Malla membalas dengan semangat 45 nya yang tak pernah padam. Ternyata Daeng Malla yang pappili-pilih (serba perhitungan), punya motif tersendiri.
Masker yang digunakan adalah alat kampanye salah satu calon Walikota pilihannya.
**
Daeng Rewa sudah tidak punya nafsu untuk memilih lagi, meskipun perhelatan akbar Pilkada 2020 sebentar lagi akan datang menghampiri.
Ia masih ingat, bagaimana dirinya yang dulu perkasa, selalu menjadi salah satu pendukung calon gubernur atau walikota. Terakhir terjadi pada tahun 2018, ketika calon walikota andalannya dikalahkan oleh kotak kosong.
"Bagaimana caranya, kotak kosong saja menang lawan calonku, bisa-bisanya itu orang lebih suka kaleng Khong-guan daripada Walikota." Daeng Rewa kesal, sebabnya ia telah terlanjur taruhan dengan Daeng Tojeng, pendukung kotak kosong.
Taruhannya sih, tidak berat-berat amat. Janjinya yang kalah harus membersihkan WC sang pemenang selama 3 hari berturut-turut. Jadilah Daeng Rewa yang rapih, harus rela menjadi tukang bersih kakus di rumah Daeng Tojeng.
Namun nafsunya terhadap Pilkada hilang, bukanlah karena kemenangan kotak Khong-guan, namun karena pandemi yang belum kunjung selesai. Halifah anak semata wayangnya, telah dinyatakan negatif Covid, namun kini giliran Siti Khadijah istrinya, yang terserang batuk dan flu.
Daeng Rewa yang sudah tidak lagi berani, bingung antara membawa istrinya tes covid, atau tetap meminum air ramuan akar bahar. Masalahnya, sudah dua hari Halifah yang ngotot meminta ibunya diperiksa, tidak berbicara lagi dengannya.