Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - —

Best in Opinion Kompasiana Awards 2021 | Kata, data, fakta

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Batik Nusantara Penjalin Solidaritas, dari Difabel untuk Difabel

4 Januari 2022   13:32 Diperbarui: 4 Januari 2022   13:36 1876
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ariyono Setiawan sedang memberikan instruksi kepada pekerja difabel di Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

Motivasi utama Aryo lewat Batik Wistara yang ia rintis, adalah sebagai wadah bagi ABK agar bisa terus berkarya meski memiliki keterbatasan fisik. "Konsep Batik Wistara adalah social enterpreneur," ungkap Aryo.

Selain difabel yang berasal dari wilayah Surabaya, ia juga memberdayakan ABK asal Sidoarjo, Malang, Kediri, Pacitan, Jember, dan Cilacap. Ia mengaku sangat terbuka dalam memberikan wadah untuk para penyandang disabilitas dari seluruh penjuru Indonesia.

Siapa pun yang memiliki kekurangan fisik, tetapi memiliki semangat dan etos kerja, akan diterima dengan baik untuk dibekali dan diperkerjakan di sana. Tidak ada diskriminasi. Mereka dilibatkan secara penuh dalam proses produksi berbagai varian produk batik warisan Nusantara. 

Lantaran kekhasan batik yang tidak ditemui pada karya rumah batik lainnya, Aryo menamai konsep motifnya sebagai batik abstrak atau batik junjing. Sebuah konsep yang terlahir secara organik dari tangan-tangan kreatif para ABK. Ada kombinasi batik ala Nusantara mulai dari motif Kawung, Sekar Jagad, hingga Semanggi.

Produk batik karya para difabel di UMKM Rumah Batik Wistara Surabaya. | Dokumentasi pribadi penulis
Produk batik karya para difabel di UMKM Rumah Batik Wistara Surabaya. | Dokumentasi pribadi penulis

Menurut Aryo, hanya perlu satu bulan pelatihan saja bagi ABK agar mereka bisa bekerja mandiri sesuai dengan tugasnya masing-masing. Hanya saja, proses pengerjaan batik memerlukan ketelatenan serta konsistensi tinggi. Faktor itu yang terkadang membuat ABK sedikit kesulitan belajar.

Tak hanya diminati oleh konsumen dalam negeri, produk karya kaum difabel ala Rumah Batik Wistara juga telah diekspor ke mancanegara. Hal itu menjadi bukti bahwa karya para penyandang disabilitas dalam sektor ekonomi kreatif juga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

Kendati begitu, jerat pandemi sempat membuat pondasi Batik Wistara sedikit goyah. Aryo harus memutar otak dalam melakukan adaptasi agar rumah batik sosial yang ia dirikan bisa "selamat".

Masker batik karya para difabel yang saya pesan dari Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi pribadi penulis
Masker batik karya para difabel yang saya pesan dari Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi pribadi penulis

Masker dari kain perca sisa produksi, menjadi bukti tingginya level adaptasi rumah Batik Wistara dalam menghadapi situasi krisis. Upayanya itu telah berhasil menyelamatkan nasib penyandang disabilitas yang kerap kesulitan dalam mencari pekerjaan, terlebih saat virus corona menyerang.

Batik Wistara telah memproduksi lebih dari 5.000 masker selama pandemi. Beberapa di antaranya telah sampai di tangan saya atas jasa Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) dalam mengantar paket pesanan saya dengan aman dan nyaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun