Mohon tunggu...
King Kwan Yew
King Kwan Yew Mohon Tunggu... Administrasi - Aparat Rakyat Indonesia

Ex - treemJienak

Selanjutnya

Tutup

Politik

Freeport Cinema, Tonton di Layar TV Anda

14 Desember 2015   11:26 Diperbarui: 14 Desember 2015   13:19 212
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Widdiiihh", sambut SN dan MR kompak, bukannya waalaikum salam. Keduanya berdiri menyambut MS, salaman, SN memberi isyarat ke MS untuk mengambi posisi duduk di seberang meja SN. MR menarik kursi dan mengambil posisi duduk. Smartphone dilatekkan di meja dengan posisi terbalik, bagian layar menghadap ke bawah.

“Nggak keluar, Pak” SN membuka perbincangan

‘Nggak, ada tahlilan” MS menjawab seadanya sambil menyandarkan punggungnya.

Obrolan mengalir, ngolar ngilur dari Solo sampai Papua, China sampai San Diego, pilkada sampai pilpres, PSSI, investasi, dan tentu saja saham Freeport, Smelter, dan PLTA. Beberapa nama beken ikut pula disebut-sebut, Jokowi, JK, Luhut, Darmo, hingga Jim Bob. SN  dan MR tak sadar sedang direkam. MS yang sadar on the record, berbicara seadanya, menimpali sesekali, dan tentu saja tak boleh kepleset. Ia menjaga betul setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Sebisa mungkin kalimat-kalimat itu nantinya  terdengar pantas, idealis, dan yang paling penting harus nasionalis meskipun ia sedang memimpin sebuah perusahaan asing.

Tak terasa sudah satu jam, MS menyadarinya setelah melirik jam di tangannya.

"Terimakasih waktunya, Pak". MS mulai gerah dan mohon pamit. Tak berhasil. Obrolan masih lanjut. MS memperbaiki posisi duduknya sambil melirik smartphonenya di atas meja. Ada sedikit kerisauan jangan2 hasil rekamanya tidak bagus, atau malah gagal record. Konsentrasinya tak lagi tertuju pada obrolan.

Beberapa menit kemudian:

"Baik Pak. Terima kasih Pak Ketua. Saya duluan Pak. Makasih Pak, mari. Pak Riza makasih Pak. Mari ". Kali ini MS memohon dengan wajah serius sambil berdiri, merebut smartphonenya dari atas meja.

"Yuk, Pak " Jawab SN singkat, tak ada reaksi berlebihan. SN menyudahi obrolan dan membiarkan MS keluar dari ruangan.

"Cakep deh" Gumam MR dengan nada puas sambil merenggangkan punggungnya ketika MS sudah berlalu. Entah apa maksudnya.

Tapi yang pasti, ada sekelumit harapan yang mengobati kekecewaannya akibat ladang besarnya, Petral, telah dibabat habis. Harapan yang tidak saja tidak terwujud, tapi menjadi petaka bagi dirinya dan sobat karibnya, SN di kemudian hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun