pekat, bau, likuid, dan berbahaya kau buang lewat pipa-pipa limbah.
Mulut pipa, selokan, gorong-gorong, semuanya jadi saksi bisu jijiknya sisa manufakturmu.
Tak lupa cerobong atas mengepul.
Dihempaskanlah asap hitam, seakan udara sekitar tak lagi lega.
pohon dikurangi, cerobong asap ditambah.
Lahan dipersempit, makin terhimpit tembok-tembok pabrik.
padi tumbuh tak banyak ngomong, tak juga pernah berontak kesakitan.
akar, batang, dan daunnya disekap racun limbah garmen.
merah,hitam, dan ungu mewarnai air suci petani padi.
lantas beras putihnya masih kau makan juga.Â
sudah kau sakiti, kau makan juga.
kalau padi saja bisa "nerimo" cobaan pedih, mengapa manusia selalu emosi dikala alam mulai hancur?
Surakarta, 12 Maret 2019
Kingkin Kts
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI