"Ok dah," jawab Malthuf.
"Ok juga deh," timpal Hafil.
Firman hanya mengangguk dan ikut berdiri. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Menunggu kepastian yang masih belum matang. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya aku pun tak tahu. Hanya DIA-lah yang maha tahu segalanya. Kami hanya berharap yang terbaik.
##@@##
Keesokan harinya kami kembali berkumpul di tempat yang sama dengan perasaan yang berbeda. Semua terlihat dari raut wajah yang ditunjukkan setiap masing-masing orang.
"Aduh.., aku enggak dibolehin sama orang tuaku kawan," desah Malthuf padaku sama yang lain.
"Loh kenapa?" Tanya Hafil pertama kali.
"Jadi gini, orang tuaku itu menginginkan aku melanjutkan profesi mereka sebagai nelayan. Enggak usah aneh-aneh katanya," jelas Malthuf dengan mimik sedihnya.
"Sebenarnya aku juga enggak dibolehin sama orang tuaku kawan," celetuk Hafil.
"Loh kamu juga kenapa?" Tanya Ibar santai.
"Keluargaku sebentar lagi mau ke kota dan aku disuruh ikut kesana. Tapi ini bukan untuk sepak bola atau futsal, aku disuruh sekolah dan fokus untuk itu. Orang tuaku kayaknya enggak setuju jika aku menekuni bidang ini kawan," curhat Hafil.