"Semua diam di tempat! Kami mendapat laporan adanya praktik suap di sini," ujar salah satu polisi dengan nada tegas.
Pelayan panik. "Saya... saya cuma dititipi!" katanya sambil menyerahkan amplop ke polisi.
Polisi membuka amplop itu dan menggelengkan kepala. "Bukti kuat. Di mana orang yang menitipkan ini?"
Pelayan tak mampu menjawab. Tapi tiba-tiba, pria tadi muncul kembali di pintu. Senyumannya kini dingin dan penuh arti.
"Bagus. Semua sesuai rencana," gumamnya pelan, cukup untuk membuat polisi meliriknya dengan curiga.
"Bapak ikut kami ke kantor," ujar polisi, menahan pria itu yang hanya tertawa kecil. Namun sebelum pergi, polisi menyelipkan selembar uang ke sakunya, lalu berbisik ke pelayan, "Jangan bilang ke siapa-siapa. Urusan selesai di sini."
Dinda dan Rina terpaku, tubuh mereka kaku. Mereka ingin berteriak, tapi apa gunanya?
"Din, kita pulang aja," suara Rina terdengar lirih.
Dinda melangkah keluar dengan pikiran kacau. Ia menatap tinta ungu di jarinya, seakan menilai ulang pilihannya pagi ini.
"Rin," gumamnya akhirnya, "Mungkin bukan mereka yang busuk. Tapi kita yang terlalu bodoh untuk terus percaya."
Rina hanya menatap kosong, langkah mereka menjauh dari warung yang kini sepintas menjadi saksi intrik busuk yang sulit dimengerti.