Mohon tunggu...
Khoeri Abdul Muid
Khoeri Abdul Muid Mohon Tunggu... Administrasi - Infobesia

Kepala Sekolah SDN Kuryokalangan 02, Gabus Pati, Jateng. Direktur sanggar literasi CSP [Cah_Sor_Pring]. Redaktur penerbit buku ber-ISBN dan mitra jurnal ilmiah terakreditasi SINTA: Media Didaktik Indonesia [MDI]. E-mail: bagusabdi68@yahoo.co.id atau khoeriabdul2006@gmail.com HP 081326649770

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tanpa Cinta kepada Sesama

24 November 2024   05:21 Diperbarui: 24 November 2024   06:27 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

OLEH: Khoeri Abdul Muid

Langit sore memerah seperti bara api, memantulkan bayangan murung di Sungai Bengawan. Pak Mardi duduk di teras rumah megahnya, memandangi desa yang tampak kecil dari atas bukit. Ia adalah orang terkaya di Desa Karangjati, tapi juga yang paling dibenci. Kekayaannya hanya untuk dirinya sendiri.

"Wong urip kudu pinter ngirit," katanya saat diminta menyumbang untuk membangun mushola. Kata-kata itu sudah menjadi tamengnya bertahun-tahun.

Hari itu, seorang pengemis tua datang mengetuk pintu. Tubuhnya kurus, mata sayunya penuh harap. "Pak, nyuwun tulung. Aku durung mangan rong dina," pintanya lirih.

Pak Mardi melotot tajam. "Wis lunga! Kene ora omah pang-pangan!" bentaknya, lalu menutup pintu keras-keras. Pengemis itu terhuyung, berusaha menahan air mata, sebelum akhirnya pergi dengan langkah gontai.

Malam harinya, angin berdesir pelan, tapi mencekam. Langit gelap seperti menelan semua cahaya. Tiba-tiba, suara ketukan pintu bergema. Tok! Tok! Tok! Pak Mardi terbangun dengan kaget. Siapa yang mengetuk tengah malam begini? Dengan ragu, ia membuka pintu.

Seorang lelaki tua berjubah putih berdiri di sana. Wajahnya bercahaya, tapi sorot matanya tajam, seolah menembus relung jiwa. "Apa kau puas dengan hidupmu, Mardi?" tanyanya dengan suara dingin.

Pak Mardi menelan ludah. "Panjenengan sinten? Kenapa Anda datang ke rumah saya malam-malam?"

Lelaki itu tersenyum tipis, senyuman yang anehnya membuat Pak Mardi merinding. "Ora tresna marang sapadha-padha, padha wae ora tresna marang Kang Maha Kuwasa. Kau mengusir seorang hamba Tuhan yang kelaparan. Apakah kau pikir Tuhan menerima ibadahmu?"

Pak Mardi berusaha menjawab, tapi lidahnya kelu. Lelaki itu mendekatkan wajahnya hingga napasnya terasa dingin di pipi Pak Mardi. "Esok adalah kesempatan terakhirmu. Tunjukkan cintamu pada sesama, atau kau akan kehilangan segalanya."

Pagi berikutnya, kepala Pak Mardi terasa berat. Ia ingin melupakan mimpi aneh semalam, tapi bayangan lelaki berjubah putih terus menghantui pikirannya. Belum lama ia duduk di teras, Bu Sari, tetangga janda dengan tiga anak, datang sambil menangis.

"Pak Mardi, anakku lara parah. Aku butuh dhuwit kanggo tuku obat. Tolonglah, Pak," katanya memohon.

Pak Mardi memandangnya dengan tatapan kosong. Hatinya bergolak. Ia teringat pesan lelaki tua itu, tapi egonya berbisik, "Bagaimana jika dia hanya memanfaatkanmu?"

"Bu Sari, aku ora duwe dhuwit luwih," jawabnya akhirnya. "Coba minta ke yang lain."

Bu Sari terisak, lalu pergi dengan langkah lemas. Saat itu, Pak Mardi merasakan sesuatu yang aneh. Udara tiba-tiba terasa berat, seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Tapi ia mengabaikannya.

Malam itu, angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Suara ketukan pintu terdengar lagi. Tok! Tok! Tok! Kali ini lebih keras, seperti pukulan palu di pintu kayu. Pak Mardi membuka pintu dengan tubuh gemetar.

Lelaki berjubah putih itu kembali. Namun kali ini, wajahnya tak lagi teduh. Mata tajamnya menyala seperti api, dan suara angin di belakangnya seperti jeritan ratusan orang. "Kesempatanmu telah habis, Mardi. Kau telah memilih jalanmu."

"Tunggu!" seru Pak Mardi, memohon. "Aku bisa berubah! Aku akan membantu siapa saja! Jangan ambil nyawaku!"

Namun lelaki itu hanya menggeleng. "Ora tresna marang sapadha-padha, padha wae ora tresna marang Kang Maha Kuwasa. Cintailah sesamamu, Mardi, sebelum segalanya terlambat..."

Bayangan lelaki itu tiba-tiba memudar bersama hembusan angin. Pak Mardi terhuyung ke belakang. Tubuhnya terasa seperti ditarik ke dalam pusaran gelap. Suara pintu berderit dan langkah kaki menggema di dalam rumahnya, meskipun tak ada siapa-siapa.

Keesokan paginya, warga desa menemukan Pak Mardi tergeletak tak bernyawa di depan pintunya. Matanya terbuka lebar, wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan yang luar biasa. Di dekat tubuhnya, pintu rumahnya bergetar sendiri, seolah ada yang terus mengetuk dari dalam.

Orang-orang desa berbisik-bisik, takut dan heran. Namun satu hal yang pasti: sejak hari itu, rumah Pak Mardi menjadi tempat terlarang. Mereka mengatakan setiap malam, suara ketukan pintu terdengar lagi, disusul bisikan lirih yang menembus hati siapa pun yang mendengarnya:

"Cintailah sesamamu... sebelum segalanya terlambat..."

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun