OLEH: Khoeri Abdul Muid
Malam perpisahan itu adalah malam yang tak biasa. Di sebuah aula sederhana, para guru berkumpul, duduk berderet rapi, menanti kata-kata terakhir dari seseorang yang telah menemani perjalanan mereka selama 15 tahun terakhir. Seseorang yang telah menjadi teman, pemimpin, dan terkadang juga sahabat yang bisa diajak bercanda hingga tertawa terbahak-bahak. Dan, tentu saja, malam itu, ia berdiri di sana, mantan ketua yayasan yang juga dikenal sebagai pelawak ulung.
Ia menarik napas, menatap para guru yang duduk di depannya, lalu membuka pidatonya. Suasana hening, ia mulai dengan nada sendu, melankolis.
"Seandainya kalian tahu, betapa berat rasanya meninggalkan semuanya..." katanya, sambil menghela napas panjang, ekspresinya sedikit murung. Para guru pun mulai mengusap sudut mata mereka. Beberapa yang sensitif bahkan sudah mengeluarkan saputangan. Hening. Ia melanjutkan, suaranya bergetar.
"Kalian mungkin nggak percaya, tapi selama 15 tahun ini, aku benar-benar jatuh cinta sama profesi ini... setiap hari, aku menyaksikan kalian semua tumbuh. Dari yang ragu-ragu, sampai sekarang berani mengambil keputusan sendiri. Dari yang takut bicara di depan orang banyak, sampai akhirnya bisa memimpin rapat. Rasanya... berat..." ujarnya dengan ekspresi penuh haru.
Para guru mulai mengangguk-angguk, menyetujui kata-katanya. Namun, tiba-tiba ekspresinya berubah, bibirnya tersenyum kecil, lalu tanpa diduga, ia berkata dengan nada jenaka, "...beratnya karena kue yang tadi belum habis di belakang! Ayo lah, siapa yang masih nahan-nahan buat nyemil, habisin aja!"
Tawa pecah seketika. Para guru langsung tertawa lepas, bahkan yang tadinya menunduk sedih pun langsung mendongak sambil tertawa geli. Ia berhasil merubah suasana melow menjadi gelak tawa.
"Tapi serius," lanjutnya, sambil berdehem mencoba kembali serius, meskipun matanya masih menyiratkan kelucuan. "Perpisahan adalah keniscayaan dari setiap pertemuan. Setelah 15 tahun, saatnya aku melanjutkan tugas baru, mendampingi... ehm, ehm... siapa ya? Cuma Tuhan yang tahu..." katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Para hadirin langsung tergelak lagi. Mereka tahu betul bahwa itulah gayanya: dramatis, namun selalu ada selipan humor yang tak terduga.
"Melihat kalian selama ini membuatku bangga. Bukan hanya tentang kemandirian atau keberanian kalian sebagai pendidik, tapi juga ketangguhan kalian dalam menghadapi setiap tantangan. Kalian tak hanya tumbuh sebagai guru yang mandiri, tapi juga sebagai pribadi yang resilient---tangguh!" katanya, suaranya kali ini lebih serius, seolah-olah memberikan kata-kata terakhir.
Sesaat hening. Lalu, ia berkata pelan, "Doa terakhirku... semoga kalian selalu well-being, sehat lahir batin, dan tetap resilient di tengah badai kehidupan."
Tapi ia tak bisa menahan senyumnya yang akhirnya berubah menjadi cengiran, dan menambahkan dengan gaya khasnya, "Resilient tuh... artinya apa coba? Bukan 'resi-nya Lient,' ya!" Gurauan itu membuat mereka tertawa lagi. Ia memang tidak pernah gagal membuat suasana menjadi cair, bahkan di saat-saat yang seharusnya penuh keharuan ini.
Saat akhirnya ia melangkah mundur dan menutup pidato dengan salam perpisahan, semua orang terdiam. Ada rasa hampa yang muncul setelah gelak tawa mereda. Perlahan, para guru menyadari, ini bukan lelucon. Ia benar-benar akan pergi.
Namun demikian, perpisahan tak pernah benar-benar berarti hilang. Selama bertahun-tahun, mereka telah tertawa, menangis, dan belajar bersama. Dan itulah yang akan terus hidup, menjadi kekuatan mereka di hari-hari yang akan datang.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI