Konflik bermula ketika masyarakat adat mengetahui rencana perusahaan tambang untuk membuka pertambangan di wilayah yang merupakan bagian dari tanah adat suku Dayak. Dalam pertemuan komunitas, sesepuh adat telah menegaskan bahwa tanah tersebut bukan hanya sekedar lahan biasa, melainkan adalah sumber kehidupan dan warisan nenek moyang mereka.
Tanah yang diwariskan turun temurun, kini terancam oleh kegiatan pertambangan yang tdak terkendali. Hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka perlahan ditelan oleh lubang-lubang raksasa dan asap tebal yang mencemari udara. Dengan demikian, meskipun terdapat sengketa yang kompleks dan sulit, kedua belah pihak akhirnya menemukan jalan keluar yang menghormati nilai-nilai atau norma-norma budaya, lingkungan, dan kepentingan ekonimi. Kesepakatan ini menjadi contoh bagi daerah lain tentang pentingnya dialog, kerjasama, dan menghargai keberagaman budaya dan lingkungan hidup.
Masa depan Kalimantan ada di tangan kita. Maka, marilah kita jaga bersama warisan alam dan budaya yang tak ternilai harganya ini.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H