Mohon tunggu...
Angkatan Keris 18
Angkatan Keris 18 Mohon Tunggu... Penegak Hukum - Official Keris 18 Surabaya Selatan

Taqwa, Intelektual, Profesional

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tidak Serta Merta Sejarah Berdirinya PMII Terkait Hal-hal Positif, Ada Juga Hal-hal Politik

27 September 2019   20:28 Diperbarui: 27 September 2019   21:06 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona


Jika kita berbicara sejarah maka haruslah kita membaca sejarah tersebut secara obyektif, bagaimana membaca sejarah secara obyektif itu? Pertama kita harus mengetahui refrensi dari mana sumber sejarah itu, apakah akurat atau masih ambigu, atau yang lebih parah lagi masih adakah kerancuan-kerancuan dari sumber refrensi sejarah tersebut atau tidak? 

Dan yang kedua adalah kita membaca sejarah ini dari perspektif yang mana? Dari sisi yang mana? Positif atau Negatif? Akan lebih akuratnya ialah kita membaca dan menilai dari sisi kedua duanya. 

Seperti adagium yang konon katanya pertama kali dikemukakan Winston Churcill ataupun dari Napoleon yakni "Sejarah ditulis oleh para pemenang". Ketika berbicara historis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) tidaklah terlepas pembahasan tersebut dari NU (Nahdlatul Ulama) yang mana pada masa itu NU masih menjadi partai politik. 

PMII sendiri didirikan pada 17 April 1960 yang mana perumusnya ialah dari tokoh-tokoh mahasiswa NU yang bergabung dalam IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Perlu diketahui, pada musyawarah yang diselenggarakan di Taman Pendidikan Putri Khadijah, Surabaya tersebut bukan hanya 13 tokoh saja, 13 tokoh tersebut hanyalah perumus. 

Banyak diantara orang-orang yang lebih dari 13 tokoh ikut serta andil mengikuti pembentukan organisasi mahasiswa NU tersebut hingga forum musyawarah menghasilkan keputusan dan menyepakati berdirinya organisasi mahasiswa NU dengan nama "Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia", disingkat PMII (Baca sejarah PMII). 

Kembali lagi sebelum dirumuskanya PMII, mahasiswa NU dulunya aktif didalam organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) karena NU sendiri belum mempunyai organisasi mahasiswa. 

Di rasa mahasiswa-mahasiswa NU yang aktif didalam organisasi HMI tersebut tidak pernah menempati pos-pos strategis, aspirasi tidak pernah didengar didalam organisasi tersebut, manakala HMI bernaung pada Masyumi yang pada saat itu menjadi saingan partai NU. Oleh sebab itu kalangan mahasiswa NU merasa perlu adanya sebuah organisasi yang mewadahi mereka dan tentunya di bawah naungan NU, seperti halnya IMM yang payung induknya Muhammadiyah. Lalu lahirlah IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) sebagai organisasi mahasiswa yang mewadahi mahasiswa NU. 

Muncul penolakan dari pihak PBNU karena berdirinya IMANU, dengan alasan IPNU baru saja berdiri, maka munculah trobosan berdirinya Departemen Perguruan Tinggi didalam organisasi IPNU untuk mewadahi aspirasi mahasiswa NU atas gagasan Tolchan Mansoer. 

Selang beberapa tahun setelah dirasa DPT IPNU tidak lagi efektif dan tidak mampu menampung aspirasi mahasiswa NU yang semakin besar jumlahnya, DPT IPNU juga dianggap terlalu sempit dan tidak bisa mewadahi sepak terjang mahasiswa, dengan beberapa asumsi liar beranggapan bahwasanya paradigma mahasiswa tidak sama dengan pelajar, mahasiswa enggan dipimpin oleh struktural pelajar, manakala rivalitas politik antar partai pada saat itu berimbas kepada mahasiswa, disinilah NU harus punya organisasi mahasiswa. Berawal dari itulah cikal bakal berdirinya PMII (Baca Biografi Profesor NU Yang Terlupakan). 

Dari sepak terjang itulah sebelum dan awal berdirinya PMII tidak terlepas apa yang disebut sakit hati dan politik. Percaya atau tidak bagaimanapun situasinya jika pada saat mahasiswa NU berorganisasi didalam HMI, aspirasi tidak pernah didengar sampai-sampi mahasiswa NU tidak pernah menduduki pos-pos strategis, lalu sepakat ingin mendirikan organisasi mahasiswa dari kalangan NU sendiri, bukankah itu termasuk sakit hati? Apalagi itu semua termasuk dalam prihal politik. 

Sedangkan dilihat dari kondisi sosial politik pada tahun 50-an, banya organisasi mahasiswa yang bernaung pada payung induknya. Maka sekali lagi tidak heran jika berdirinya organisasi mahasiwa NU, yang melatar belakangi ialah faktor sakit hati dan lagi-lagi ini adalah prihal politik.

Berbicara mengenai mengapa ketua umum PB PMII pertama adalah Mahbub Junaidi, padahal dengan jelas mahbub junaidi bukan termasuk 13 tokoh dalam perumusan beridirinya PMII. 

Selain orang yang pintar, baik pengalaman atau dalam segi karya tulisanya, intelektualitasnya, ialah dalam segi politik Mahbub Junaidi lebih unggul dari yang lain. Sepak terjang beliau sangat gemilang, networking beliau sangat profesional, Mahbub Junaidi ialah salah satu dari 3 orang yang masuk Istana Presiden dan berdialog secara langsung dengan presiden Soekarno tanpa dihadang keamanan. 

Jika dilihat dari peryataan seperti itu maka tidak heran jika Mahbub Junaidi dijadikan ketua umum PB PMII pertama dengan harapan PMII kedepan akan lebih maju dan berkembang. Itulah alasan mengapa para perumus menjadikan Mahbub Junaidi menjabat ketua umum PB PMII pertama tidak lain ialah karena politik.

Sekarang kita meloncat pembahasan pada tahun 1972, tepatnya pada tanggal 14 Juli. Terjadi peristiwa besar dalam historis PMII, yang mana pada saat itu PMII mendeklarasikan independensi atau memutuskan hubungan dengan NU (Baca sejarah PMII). 

Dalam buku Pemikiran PMII Dalam Berbagai Visi dan Persepsi, karangan Chairul Anwar dan Efendy Choirie. Dijelaskan ada 3 motif yang melatarbelakangi independensi PMII, yaitu: sebagai proses pendewasaan, sebagai pernyataan sakit hati dan yang terakhir sebagai taktik. Kita fokus dalam pernyataan sakit hati karena pada saat itu banyak kader PMII yang kompeten, tapi tidak pernah diberi kesempatan untuk duduk dikursi legislatif maupun eksekutif. Padahal NU pada saat itu masih menjadi partai politik, seharusnya NU memperhatikan keluhan PMII itu. 

Sederhananya motif independensi PMII hanya karena kursi legislatif dan kursi eksekutif. Maka tidak heran apapun yang melatarbelakangi kejadian dalam historis PMII tidak terlepas dari prihal politik dan dengan faktor sakit hati.

 Ini alasan mengapa sampai saat ini kader-kader PMII tidak terlepas dari hiruk-pikuk, caut-maut prihal politik baik didalam kampus ataupun diluar kampus, terlepas dari sifat dan tujuan PMII yang tertera dalam AD/ART PMII.

wallahul Muwafiq ila Aqwamit Thariq

Salam Pergerakan!!!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun