"Gebrakan Menteri Kesehatan yang Baru DR Terawan". Begitulah judul pesan berantai singkat yang dibagikan melalui Whatsapp (WA) oleh salah satu tetua di grup WA keluarga besar saya. Lucunya, tidak berselang lama kemudian, salah satu anggota keluarga besar saya yang berprofesi sebagai direktur salah satu rumah sakit swasta di Jakarta langsung membalas pesan singkat itu dengan pesan berbunyi "hoax.. dari dulu sudah begini. Ini bukan hal baru untuk pelayanan RS".Â
Tontonan menggemaskan yang melibatkan dua anggota keluarga ini, terutama para tetua yang berusia 50-60 tahun, seringkali menghiasi chat room di grup keluarga besar kita sendiri.
Tidak sepatutnya juga bagi para anggota sebuah grup percakapan daring untuk menyebarkan berita berantai yang sumbernya belum mereka ketahui sebelumnya, terlepas apabila berita tersebut benar adanya.
Kebiasaan "asal forward, baca belakangan" para tetua ini menurut saya lama-kelamaan membuat risih sebagian anggota grup keluarga lainnya.
Malahan, terkadang jamak saya mengamati bahwa pesan-pesan berantai lebih sering muncul daripada pesan sederhana seperti menanyakan bagaimana kabar keluarganya sendiri.
Patut dipahami bahwa cekcok mengenai validitas informasi yang dibagikan di grup keluarga itu memperburuk hubungan antar anggota keluarga. Terutama, hubungan yang vertikal, seperti pakde-keponakan, nenek-cucu, dan segala hubungan vertikal yang eksis dalam sebuah keluarga. Ketika diadakan sebuah arisan keluarga besar, kerapkali para tetua yang terlibat cekcok itu terlihat canggung satu sama lain.
Apalagi, sudah menjadi tipikal anak muda untuk merasa risih terhadap serbuan pesan-pesan berantai di grup keluarga besarnya.
Akibatnya, pasukan anak muda di dalam sebuah grup keluarga bertindak apatis dengan mengambil posisi bodo amat terhadap segala tindak tanduk anggota keluarganya di grup, persis seperti kiprah saya dan sepupu di grup keluarga besar hingga saat ini.
Saya dan para sepupu malahan menjadikan hal itu sebagai candaan dalam sebuah obrolan ketika bertemu.Â
Efek buruk lainnya adalah mengubah struktur percakapan dua arah yang "seharusnya" dihadirkan di dalam sebuah chat room, terlebih itu adalah grup keluarga besar, malah menjadi zona pertunjukkan siapa yang paling "nampak" paling up to date di kalangan tetua kita.
Tujuan adanya Grup WA untuk mendekatkan komunikasi keseluruhan keluarga besar yang terpisah jauh kini malah semakin menjauhkannya.
Besarnya volume pesan-pesan bodong di WA diperkuat oleh temuan dari lembaga penelitian ComScore yang menyatakan bahwa pengguna WA di Indonesia saat ini mencapai 35,8 juta, menempati peringkat pertama sebagai aplikasi mobile yang paling banyak diakses oleh pengguna internet di Indonesia.
Sayangnya, tingkat pengguna WA yang tinggi tidak diimbangi dengan tingkat literasi media (cetak dan digital) yang tinggi juga.
Berdasarkan data dari internet Inclusive Index 2019, literasi media di Indonesia hanya menempati peringkat 63 dari 100 negara yang disurvei.Â
Menurut Baran dan Dennis (2010), literasi media adalah suatu rangkaian kegiatan melek media dirancang untuk meningkatkan kontrol individu terhadap media yang mereka gunakan untuk mengirim dan menerima pesan.
Dalam hal ini, literasi media dianggap sebagai suatu keterampilan yang ada dan berkembang di dalam diri untuk setiap saat meneliti dan mengevaluasi rangkaian informasi yang didapatkan dari media, terutama media digital.Â
Dengan kemampuan literasi media yang baik maka seseorang dapat memahami dan menjadi kritis terhadap maksud tertentu yang disampaikan oleh media.
Dengan begitu, hal ini mengantisipasi serta meredam adanya efek negatif yang disebabkan oleh sebuah pemberitaan (Ilahi, 2014).Â
Saya menilai sebagian para tetua di grup keluarga, terutama di grup keluarga besar saya sendiri, memiliki kecakapan literasi media berjenis cetak yang masih bisa diharapkan ditandai dengan budaya membaca koran dan majalah di pagi hari oleh bapak atau kakek kita.
Namun, hal itu menurut saya sama sekali tidak hadir dalam kemampuan literasi mereka di dunia digital.Â
Salah satu alasannya adalah faktor hujan informasi yang kerap kali hadir di ranah media digital. Karena latah dalam berselancar di dunia daring, maka sudah menjadi kebiasaan para tetua untuk membagikan hal yang mereka dapat, terutama di grup WA keluarga.
Mungkin bisa saja, maksudnya para tetua di grup keluarga besar saya sangat baik dengan menyampaikan informasi supaya anak-cucunya juga menjadi bertambah cerdas dengan mengetahui hal tersebut.
Namun, proses check and recheck seringkali mereka lewatkan begitu saja. Bahkan barangkali mereka belum juga sempat membacanya. Yang penting bagikan dulu.
Kebiasaan menerima informasi dengan validitas yang sangat tinggi dari media cetak berupa koran dan majalah sedikit banyak membuat para tetua itu mengabaikan sikap kritis terhadap kebenaran dari informasi yang dibagikan di media digital.
Mengingat dalam dunia digital, berita/informasi kebanyakan diproses begitu saja tanpa memperhatikan alur jurnalistiknya.Â
Sebenarnya banyak faktor lain yang turut serta dalam menumbuhkan rasa "asal forward, baca belakangan" di kalangan pegiat grup keluarga besar kita.
Akan tetapi, saya di atas hanya menggarisbawahi faktor kegagapan transformasi dari media cetak yang penuh kepastian ke media daring yang sarat akan nilai-nilai palsu yang sebagian besar menimpa para tetua kita di grup WA.Â
Referensi:
Ilahi, N. Hani. 2018. Women and Hoax News Processing on WhasApp. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 22(2): 98-111.
Stanley J. Baran, Dennis K. Davis. 2010. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment and Future. Belmot: CA, Wadswoth
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI