Inilah yang membuat saya terheran-heran. Padahal perayaan Imlek tak berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang selalu diperingati setiap tanggal 1 Januari. Dimana tidak menimbulkan pro dan kontra.
Namun saya tidak akan heran bila apa yang saya tulis akan membuat orang yang menentang perayaan Imlek terheran-heran.
Bicara soal heran-heranan, saya tidak menjadi heran kalau keluarga besar mertua yang sebagian besar sudah beragama Kristen tetap merayakan Imlek secara meriah.
Bahkan ada 3 pendeta yang datang untuk ikut merayakan di rumah mertua dan makan bersama. Kakak ipar yang asli Lampung, mertua ponakan yang orang Batak, dan pendeta gereja di mana keluarga mertua kebaktian.
Saya pikir, apa yang para pendeta ini lakukan tentu tidak akan mengganggu kekristenan mereka.
Kadang saya berpikir, bila kehidupan kita berpatokan pada agama yang dipahami secara "sempit" dan "mau menang sendiri".
Pada akhirnya akan menimbulkan perbedaan dan meremehkan dengan segala kebenaran dan pembenaran. Lalu di mana letak kasih dan damai sejahtera yang selalu di dengung-dengungkan itu? Kapan akan kita temukan kebersamaan dan keindahan tanpa pro dan kontra?
Sementara ini, bagi saya keindahan hidup itu akan bisa kita temukan bila tidak terlibat dalam pro dan kontra. Namun dalam kesunyian selalu untuk mendamaikan hati. Itu saja.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI