Mohon tunggu...
Kanopi FEBUI
Kanopi FEBUI Mohon Tunggu... Jurnalis - Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Kanopi FEBUI adalah organisasi yang mengkhususkan diri pada kajian, diskusi, serta penelitian, dan mengambil topik pada permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia secara makro. Selain itu, Kanopi FEBUI juga memiliki fungsi sebagai himpunan mahasiswa untuk mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi dimana seluruh mahasiswa ilmu ekonomi merupakan anggota Kanopi FEBUI.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

What's Wrong with Economics? Perlunya Pluralisme dalam Ilmu Ekonomi

27 Juli 2018   19:20 Diperbarui: 8 Agustus 2018   19:06 1259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ekonom teori neoklasik sering mendengungkan perlunya microfoundations sebagai basis dalam analisis makroekonomi. Mereka lupa bahwa macrofoundations juga turut diperlukan dalam analisis ekonomi. Masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang berbeda khususnya kelas, yang mempunyai arti penting dalam fenomena ekonomi. Sebagai contoh, ilmu ekonomi Marxist memandang fenomena ekonomi dari lensa relasi kekuasaan di antara pekerja dan kapitalis serta tren sejarah, mazhab Feminist menambah perspektif gender dalam fenomena ekonomi.

Ekonom neoklasik sering mendiskreditkan mazhab heterodoks dengan alasan bahwa mazhab-mazhab tersebut tidak membawa kontribusi yang bermakna bagi perkembangan ilmu ekonomi dan pengaplikasiannya dalam dunia pembuatan kebijakan. Hal tersebut merupakan pandangan yang jelas salah. 

Ekonom mazhab Post-Keynesian misalkan, seperti Steve Keen dan Wynne Godley merupakan satu-satunya kelompok ekonom yang mampu memprediksi terjadinya krisis 2008 dalam model-model ekonomi mereka. Hal tersebut dapat terjadi karena paradigma utama dalam mazhab Post-Keynesian didasarkan pada aksioma bahwa sistem kapitalisme yang adalah suatu sistem secara inheren tidak stabil dan manusia tidak dapat dianggap rasional akibat wujudnya konsep uncertainty.

Namun begitu, hal tersebut tidak berarti bahwa mazhab neoklasik merupakan sesuatu yang harus sepenuhnya dibuang dan diganti. Yang dibutuhkan di sini adalah pluralisme, penggabungan dari kedua paradigma homo economicus mazhab neoklasik dan paradigma homo sociologicus mazhab-mazhab heterodoks. Seperti dunia politik yang jauh lebih dan efektif dan demokratis ketika adanya perbedaan pendapat, ideal seperti itu jugalah yang harus turut muncul dalam dunia ilmu ekonomi.

Dalam teori neoklasik, kompetisi dalam pasar persaingan sempurna sering dianggap sebagai cara yang terbaik untuk mengalokasikan sumber daya. Ironisnya, hal ini justru tidak terjadi di dunia ilmiah ekonomika itu sendiri, karena teori neoklasik memegang monopoli dalam marketplace of ideas. Akibatnya, sumber daya intelektual tidak teralokasikan dengan baik dan kontribusi yang optimal dari ilmu ekonomi tidak tercapai. Pluralisme sangat dibutuhkan untuk menghancurkan monopoli tersebut.

Oleh Faris Abdurrachman | Ilmu Ekonomi 2017 | Staff Kajian Kanopi FEB UI 2018

 

Referensi

  1. Abdurrachman, F. (1 Desember 2017). Democratizing Economics: A Case for Reform. Diakses dari https://www.kompasiana.com/kanopi_febui/5a1d63d6677ffb34e82fb1a2/democratizing-economics-a-case-for-reform
  2. Reed, H. (13 April 2018).  Rip it up and start again: the case for a new economics. Diakses dari https://www.prospectmagazine.co.uk/magazine/the-case-for-a-new-economics
  3. Christian Arnsperger and Yanis Varoufakis, "What Is Neoclassical Economics?", Post-Autistic Economics Review, issue 38. (n.d.). Diakses dari http://www.paecon.net/PAEReview/issue38/ArnspergerVaroufakis38.htm
  4. Earle, J., Moran, C., Ward-Perkins, Z., & Haldane, A. G. (2017). The econocracy: The perils of leaving economics to the experts. Manchester University press.
  5. Harvey, J. T. (3 Agustus 2012). How Economists Contributed to the Financial Crisis. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/johntharvey/2012/02/06/economics-crisis/#32d01c793b3
  6. Krugman, P. (2 September 2009). How Did Economists Get It So Wrong? Diakses dari https://www.nytimes.com/2009/09/06/magazine/06Economic-t.html
  7. Lavoie, M. (2015). Post-Keynesian economics: New foundations. Edward Elgar.
  8. Proctor, J. (2017). Rethinking economics: An introduction to pluralist economics. Routledge is an imprint of the Taylor & Francis Group, an Informa Business.
  9. Vines, D., & Wills, S. (2018). The rebuilding macroeconomic theory project: An analytical assessment. Oxford Review of Economic Policy,34(1-2), 1-42. doi:10.1093/oxrep/grx062
  10. http://www.debtdeflation.com/blogs/2012/05/22/predicting-the-global-financial-crisis-post-keynesian-macroeconomics-2/

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun