Mohon tunggu...
Kang Win
Kang Win Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penikmat kebersamaan dan keragaman

Ingin berkontribusi dalam merawat kebersamaan dan keragaman IG : @ujang.ciparay

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ngabuburit, Kenangan dan Pergeseran Makna

19 April 2020   08:40 Diperbarui: 21 April 2020   17:42 1079
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi membeli takjil. (Foto: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Awal tahun 70-an, saya masih usia SD dan lulus SMP pada akhir dekade itu. Kelas 1 SD adalah awal saya belajar puasa, puasa wajib di bulan ramadan.

Tidak banyak memori yang masih tersimpan di ingatan mengenai bagaimana puasa saya waktu itu. Sama sekali saya sudah tidak bisa mengingat bagaimana saya makan sahur, misalnya. 

Saya cuma ingat saat kelas 1 SD itu, setiap dluhur sekitar jam 12 siang orang tua saya mengijinkan berbuka kemudian puasa lagi sampai maghrib. Begitulah sampai kelas 3 SD.

Baru saat kelas 4 saya mulai menjalankan puasa penuh dari shubuh sampai maghrib. Mulai saat itulah saya mulai melengkapi puasa saya dengan sholat tarawih berjamaah di masjid. 

Kami tarawih 23 rakaat (20 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat witir). Masjid Agung tempat saya sholat tarawih ini memang menggunakan tata cara NU untuk sholat tarawih dan juga sholat Jum'at.

Yang paling diingat dari sholat tarawih pada saat itu adalah menanti malam "lilikuran", yaitu malam-malam ganjil di 10 hari terakhir ramadan. 

Bagi kami anak-anak seusia saya waktu itu, menanti malam lilikuran bukan dalam konteks menunggu "lailatul qodar", melainkan menanti pembagian sedekah dari Ajengan, panggilan untuk kiyai di kawasan Sunda, pengasuh pondok pesantren yang berada persis di seberang utara masjid agung.

Mau tahu berupa sedekahnya? Kalau tidak salah ingat Rp. 100, hanya seratus rupiah. Jumlah yang cukup besar untuk masa itu. Bayangkan untuk satu mangkuk bubur kacang ijo kita cukup mengeluarkan uang lima puluh rupiah.

Rumah kami hanya berjarak sekitar 200 meter dari masjid agung. Masjid ini terletak di bagian barat kawasan alun-alun kecamatan tempat kami tinggal. 

Layaknya masjid-masjid pada umumya pada dekade itu, masjid agung kami ini berdisain sederhana dan yang pasti terdapat "kulah", semacam kolam, untuk berwudlu.

Pada dekade 80-an, masjid direnovasi total, disain baru dengan atap sirap. 

Saat ini masjid ditutup sementara, bukan karena korona. Tapi setelah renovasi terakhir pada deksde 80-an tadi, kini renovasi total kembali dilakukan atas inisiatif salah seorang jamaah yang sukses dalam bisnisnya. Dialah yang menjadi penyokong sebagian besar dana renovasi yang diperkirakan menghabiskan dana puluhan milyar itu.

Dulu, pada dekade 70-an masjid agung kami menjadi tujuan utama "ngabuburit". Halaman masjid yang luas menjadi pusat keramaian ngabuburit. Banyak "pedagang musiman" berjualan makanan takjil dan mainan anak-anak. 

Saya masih ingat, saya termasuk pedagang musiman itu, berjualan "manisan buah". Ketika ramadan berbarengan dengan musim buah mangga, kakak sulung saya memanfaatkan mangga dari pohon di halaman rumah, membuat "manisan mangga" dan saya menjajakannya di halaman masjid agung itu pada saat ngabuburit.

Oh ya, masyarakat sunda menyebut mangga itu "buah", jadi buah-buahan lain itu "bukan buah", tapi jambu, rambutan dll. Jadi kalo disebut "manisan buah" itu khusus merujuk ke buah mangga, tidak ke buah yang lain.

Istilah ngabuburit yang sekarang populer dan sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia, memang berasal dari bahasa Sunda. "Burit" dalam bahasa sunda menunjukkan waktu beberapa saat menjelang maghrib, menjelang malam tiba. Padanan kata yang paling pas dalam bahasa Indonesia adalah "senja". 

Imbuhan "nga" dalam bahasa Sunda menunjukkan kata kerja, seperti imbuhan "me" dalam bahasa Indonesia. Jadi kata dasar "burit" yang merupakan "kata sifat" dirangkai dengan imbuhan "nga" menjadi kata kerja majemuk "ngabuburit". Jadi ngabuburit berarti menunggu burit.  Secara istilah ngabuburit  bisa diartikan aktifitas menunggu waktu buka puasa.

Seperti disebutkan di atas, istilah ngabuburit sekarang sudah sangat populer dan menjadi kosa kata baku bahasa Indonesia. Istilah ngabuburit sekarang digunakan di mana saja di seluruh Indonesia, seluruh lapisan masyarakat. Konsekuensinya, ngabuburit terpaksa harus mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan.

Di zaman dulu, ngabuburit betul-betul merupakan aktifitas menunggu waktu berbuka puasa. Ngabuburit dilakukan dalan hitungan waktu yang relatif singkat. 

Anak-anak pergi ngabuburit, setelah selesai mengaji yang biasa dilakukan sore hari setelah sholat ashar. Jadi praktis aktifitas ngabuburit itu dimulai sekitar jam 4-an sore paling siang, dan umumnya anak-anak dan remaja. Jarang ditemukan kalangan orang tua "ikut" ngabuburit.

Pada era sekarang, aktifitas yang berlabelkan ngabuburit bahkan bisa dilaksanakan sejak pagi hari. Beberapa merek rokok termasuk yang paling rajin menyelenggarakan acara ngabuburit. Juga beberapa program TV. Rupanya, label ngabuburit telah menjadi magnet tersendiri bagi kepentingan komersial bisnis.

Itulah sekelumit tentang ngabuburit.

Beberapa hari lagi umat islam akan "mengunjungi" ramadan. Selamat menjalankan ibadah ramadan bagi yang menjalankannya.


Salam hangat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun