Mohon tunggu...
DIMAS MUHAMMAD ERLANGGA
DIMAS MUHAMMAD ERLANGGA Mohon Tunggu... Mahasiswa - Ketua Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI) Caretaker Komisariat Universitas Terbuka
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Membaca Buku Dan Mendengarkan Musik

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Negeri Tanpa Nurani

22 Juli 2024   15:48 Diperbarui: 22 Juli 2024   16:00 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Di sebuah negeri di mana nurani hilang,

Terhampar luas padang gersang tanpa harapan.

Kehangatan mentari yang pernah menyapa,

Kini hanya menyisakan luka dan derita.

Kala siang berubah menjadi gelap,

Saat malam tak lagi menghadirkan rembulan,

Negeri ini terjebak dalam kekosongan,

Tenggelam dalam arus yang tanpa tujuan.

Tiada lagi suara-suara kebenaran,

Tertelan oleh gemuruh kepalsuan.

Para pemimpin yang dulu berjanji,

Menghilang di balik tembok-tembok kuasa.

Rakyat yang lelah mencari makna,

Berjuang dalam bayangan ketidakpastian.

Air mata mereka membasahi tanah,

Mengalir menjadi sungai penderitaan.

Keadilan terbungkus rapi dalam sangkar besi,

Kebenaran terpenjara oleh tirani.

Para pelaku dosa berdiri di atas mimbar,

Menepuk dada dengan pongahnya.

Di negeri tanpa nurani, 

Hati-hati telah membatu.

Rasa kemanusiaan terkikis habis,

Digantikan oleh nafsu dan ambisi.

Angin berbisik lirih dalam kesunyian,

Membawa kabar tentang masa lalu.

Tentang saat di mana nurani masih hidup,

Dan cinta kasih mengalir tanpa batas.

Kini hanya tinggal kenangan,

Tentang negeri yang pernah berjaya.

Di mana kebaikan dan keadilan bersemayam,

Di setiap sudut dan relung hati.

Tapi harapan tak pernah benar-benar mati,

Di tengah reruntuhan dan kehancuran.

Ada mereka yang masih percaya,

Pada bangkitnya nurani yang tertidur.

Negeri ini, meski tanpa nurani kini,

Masih menyimpan sisa-sisa harapan.

Di tangan generasi yang tak mengenal takut,

Mereka yang berani melawan arus kezaliman.

Mereka yang menolak untuk tunduk,

Pada kebohongan yang membelenggu.

Yang dengan tegas berdiri melawan,

Menggenggam nurani di dalam hati mereka.

Maka biarlah puisi ini menjadi saksi,

Tentang perjalanan negeri tanpa nurani.

Bahwa meski gelap menyelimuti,

Cahaya kebenaran akan tetap bersinar.

Di setiap jiwa yang berani bermimpi,

Pada setiap hati yang tetap teguh.

Karena negeri ini, suatu hari nanti,

Akan menemukan kembali nuraninya yang hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun