Mohon tunggu...
Muhammad Adib Mawardi
Muhammad Adib Mawardi Mohon Tunggu... Lainnya - Sinau Urip. Nguripi Sinau.

Profesiku adalah apa yang dapat kukerjakan saat ini. 😊

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Artikel Utama

Perhatikan 3 Kriteria Ini Sebelum Menjadikan Teman sebagai Rekan Bisnis

23 Januari 2021   06:01 Diperbarui: 23 Januari 2021   13:01 1349
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi bisnis dengan teman (Sumber: www.industryweek.com)

Jika kita hendak membahas tentang teman, bahasannya bisa saja akan sangat luas. Jika diartikan secara letterlijk, bisa saja ia akan dipahami sebagai seseorang yang kita kenal yang biasa membersamai kita dalam rentang perjalanan kehidupan. 

Oleh karena tingginya intensitas pertemuan dan interaksi kita dengan pihak yang kita anggap sebagai teman itu, maka kita pun semakin mengenal watak asli mereka, meskipun terkadang ada upaya dari mereka untuk menutup-nutupi tabiat asli.

Singkatnya, sebagian watak mereka mungkin ada yang cocok dan kurang cocok dalam penilaian kita. 

Dengan adanya penilaian terhadap teman inilah, selanjutnya kita pun mulai berkenalan lagi dengan istilah sahabat, dimana mereka yang kita gelari sahabat itu adalah pihak yang kita anggap paling setia dalam membersamai kita, baik dalam keadaan senang maupun susah. 

Selanjutnya, jika kita membawa pengertian teman ini pada ruang lingkup bisnis, istilah ini bisa saja akan dipetakan dalam beberapa diksi yang semakin mengerucut lagi. Misalnya, kita mengenal transformasi identitas untuk kata ini dengan nama-nama baru: rekan, partner, kolega dan mitra, dimana mereka yang menyandang istilah ini memiliki peran masing-masing dalam membantu kelancaran kerja, usaha atau bisnis kita.

Oleh sebab itulah, jika melihat percabangan makna teman ini dan membandingkannya dengan istilah yang dulu pernah diulas dalam sebuah tulisan Daeng Khrisna Pabhicara yang bertajuk Pohon Kata Bernama Anjing, sebenarnya istilah teman itu pun merupakan kajian yang dapat kita telaahi dengan pendekatan pohon kata. 

Ilustrasi pertemanan dalam berbisnis (Priscilla Du Preez/Unsplash)
Ilustrasi pertemanan dalam berbisnis (Priscilla Du Preez/Unsplash)

Dengan pemahaman dasar kita tentang teman di awal bahasan tadi, yakni pihak yang biasa membersamai kehidupan kita, kita pun mungkin juga akan banyak menemukan berbagai kreatifitas lain atas penggunaan kata teman ini. Misalnya saja, muncul istilah "teman hidup" yang dipahami sebagai pasangan suami atau isteri. Teman tapi mesra, sebagai gambar hubungan seseorang yang absurd antara sebatas teman ataukah pacar. Dan lain sebagainya. 

Baiklah. Berikutnya marilah kita bawa kembali bahasan tentang teman ini dalam ruang lingkup bisnis tadi. Berangkat dari munculnya kekhawatiran seseorang untuk berbisnis dengan menggunakan jasa seorang teman, sejatinya memang beralasan. 

Jika saya boleh mengutip sedikit pendapat dari Mas Taufik Rachman (TauRa) kemarin, setidaknya ada tiga pertimbangan yang melandasinya:

  1. Teman yang sudah saling kenal justru berkemungkinan akan menganggap enteng pekerjaan yang diamanahkan pada mereka. 
  2. Dulu kita mungkin hanya mengenal mereka secara emosional saja, akan tetapi kita belum tahu benar mengenai kapasitas kemampuannya.
  3. Karakter seorang teman sebagaimana kita dan manusia pada umumnya, bisa saja mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. 

Ketiga faktor itulah yang mungkin akan menjadi pertimbangan yang memberatkan manakala mengambil jasa dari seorang teman sebagai mitra atau rekan bisnis. 

Akan tetapi, di luar pertimbangan itu, kita tentu tak dapat menutup kemungkinan lain bahwa ada juga seorang teman yang nyatanya memiliki potensi untuk menjadi mitra bisnis yang baik. 

Dan untuk dapat menjadi mitra bisnis yang baik ini setidaknya mereka harus memenuhi kriteria-kriteria berikut:

Pertama, Kejujuran
Dengan sekian lamanya masa persinggungan dan berinteraksi dengan mereka, saya kira hal inilah yang kemungkinan akan diperoleh. Ya. Apalagi kalau bukan pemahaman kita atas sifat asli yang mereka miliki, apakah mereka termasuk kategori pihak yang jujur atau sebaliknya. 

Dari sinilah, dengan adanya pemahaman kita atas sifat jujur seorang teman yang menjadi rekan bisnis, maka harapannya adalah akan menjadi modal berharga dalam menjalankan bisnis secara terbuka dan transparan. 

Kedua, Kompetensi
Seorang teman yang senantiasa mengiringi setiap langkah kehidupan kita maupun mereka yang statusnya sebagai teman masa kecil-remaja yang sudah lama tak bertemu, tentu kita dapat berasumsi adanya perkembangan kemampuan mereka seiring berjalannya waktu. 

Bentuk-bentuk potensi mereka inilah yang sepatutnya dapat kita gali sekaligus kita berdayakan untuk mengembangkan usaha sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. 

Dan manakala hal ini dapat kita lakukan maka kemungkinan yang akan terjadi adalah akan tercipta iklim kerja yang berlangsung secara kondusif, sebab kita memiliki partner yang dapat bekerja sesuai dengan bidangnya, atau dalam istilah ekonominya right man on the right job, right man on the right place. 

Ketiga, Profesionalitas
Manakala seseorang sudah bekerja sesuai dengan kompetensi di bidangnya sekaligus melandasinya dengan kejujuran untuk berusaha dan berkembang bersama, saya kira hal inilah yang akan mendorong terjadinya profesionalitas dalam bekerja. 

Oleh karena landasan kerja yang dibangun adalah dengan mengedepankan profesionalitas bersama, maka pihak-pihak yang terlibat di dalamnya pun takkan lagi mengalami rasa canggung pada saat harus mengikat komitmen bersama dalam sebuah surat perjanjian kerja yang sifatnya formal. 

Dengan adanya surat perjanjian kontrak kerja inilah diharapkan seluruh pihak yang terlibat di dalamnya akan mampu bekerja sesuai dengan tujuan pokok dan fungsi (tupoksi) dalam berbisnis serta dapat menghilangkan rasa ewuh pakewuh (tidak tega) sebagaimana budaya yang terjadi pada masyarakat Jawa. 

Dengan masih terjaganya ketiga hal ini, maka saya kira memilih rekan, kolega, maupun mitra kerja dari kalangan teman sendiri bukanlah sebuah masalah, sebab adanya jaminan dan ikatan yang kuat dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya untuk menjalankan usaha bersama. 

Dan dengan adanya teman-teman dekat yang dapat kita berdayakan kejujuran, kompetensi dan profesionalitas mereka itu, maka apalagi yang kita tunggu? Lagi pula, jika ada yang dekat kenapa harus repot-repot mencari yang jauh? (*)

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun