Kamilah yang pertama menjual bubur ayam khas Banjar, hingga menjadi trademark, sekaligus langganan pejabat dan tokoh-tokoh lokal hingga nasional.
Tidak hanya itu, banyak juga kantor-kantor pemerintahan, kedinasan, sekolah dan juga pelaku usaha swasta yang secara reguler menjadi pelanggan bubur ayam kami terutama di haji Jumat.
Sayang, sejak enam bulan terakhir omset kami terus turun. Apalagi di dua bulan terakhir, setelah tidak ada satupun kantor-kantor yang order! Tentu saja, kami kebingungan mendapati fenomena ini! Apa iya, semuanya karena Doa Kuitan?
"Ji, dari mana ya resep bubur paman Hasan tu? Bujur juakah sidin memakai pesugihan Tulang belulang?" Tanya Acil Inah juru masak kami, kepadaku saat kita menyiapkan bahan bubur.
"Darimana pula Sidin dapat modal, bukanya sudah bangkrut!?" Giliran Acil Leha partner masak Acil Inah angkat bicara.
"Sabanjaran sudah kabarnya! Banyak yang melihat, setiap tengah malam, paman Hasan keliling kota menyebar tulang belulang!" Ujar Acil Inah lagi.
"Sudahlah cil jangan ghibah ah!". Jawabku menetralisir suasana, meskipun sebenarnya aku juga penasaran.
Haji Hasan, pemilik bubur ayam "Doa Kuitan" yang viral itu, sejatinya memang bukan orang lain bagi keluarga besar kami, pemilik bubur ayam "Barakat Kuitan".
Karena, Haji Hasan adalah saudara kembar dari kakekku, Haji Husin, generasi kedua penerus usaha bubur ayam "Barakat Kuitan". Keduanya adalah putera kembar dari Hajjah Maryam, Datukku.
Menurut ibuku, Bunda Noor, dulu Kai Hasan tidak mau meneruskan usaha bubur ayam, konon mengaku lebih cocok dengan usaha bengkel dan toko onderdil datuk yang juga bernama "Barakat Kuitan".
Hingga usaha bubur, akhirnya diteruskan Kai Husin, kakekku, hingga sekarang turun ke aku, generasi keempatnya.