Sementara ayah A Seng diceritakan adalah pemilik penggilingan padi yang besar di Jawa Barat.
Tidak seperti masa penjajahan, sikap masyarakat Belanda di Bandung sudah menerima kemerdekaan Indonesia adalah keniscayaan. Â Persahabatan Gardienje, Arsih dan A Seng begitu cair tanpa sekat ras.
Adaptasi KulinerÂ
Itu tergambarkan ketika mereka membahas pekerjaan rumah yang diberikan guru mereka, di antaranya Black. Pada waku itu masih banyak guru berkebangsaan Belanda.  Hilangnya sekat ras yang sudah lenyap itu menjadi  kesan saya pertama ketika membaca novel ini.
Gerdientje dan keluarganya biasa menyantap nasi dengan lauk pauk, seperti ayam panggang, sayur telur asin,hingga telur  mata sapi (telur goreng), kerupuk udang.
Dia juga makan nasi dengan ikan asin goreng, pisang raja goreng, kacang asin, lengkap dengan sambal. Â Padahal dia biasanya mengkonsumsi kentang dengan kuah sewaktu tinggal di Belanda.
Meskipun untuk sarapan ibunya menyuguhkan roti sandwich dan untuk bekalnya dibungkus dalam kantong kertas. Jadi pada dekade 1950 belum ada orang yang menggunakan kantong plastik untuk membungkus makanan.
Dalam novelnya Anne menceritakan, toko roti di Bandung banyak menjual roti yang sama enaknya seperti di Belanda. Dalam suratnya pada Jaap, Gerdientje menuturkan  dia bisa membeli keju, kue, selai dan sosis di sini.
Faktanya bila menelusuri iklan di Pikiran Rakjat  terdapat iklan toko roti, kue dan bonbon (permen) seperti Banket Bakkerij Maison Boin di Naripan 9 A (Pikiran Rakjat, 1 Juli 1950).  Ada toko Sumber Hidangan di Braga yang masih bertahan sampai sekarang.
Hunian orang Eropa awal 1950-an
Novel itu menggambarkan rumah-rumah di Bandung masih utuh didekorasi secara berbeda dibandingkan di Belanda. Saya menduga rumah-rumah di kawsan Cipaganti, Cihampelas, Dago atau Bandung utara lainnya. Â Tidak jauh beda dengan rumah orang Eropa masa colonial. Â