"Kita langsung ke istana, bersiaplah adik Purbasari," kataku.
Penjaga istana terkejut melihat kami langsung mendarat  menembak dari atas istana melumpuhkan penjaga menara yang hanya bersenjata panah. Namun tentara asing menembak dengan senjata laser. Sebuah capung motor terbang kena, karena prajurit Purbasari belum mahir namun dia berhasil menabrakan motornya menghancurkan dinding pertahanan prajurit asing, hingga lebih dari tiga prajurit asing terlontar dengan tubuh hangus.
Prajurit Purbasari dengan senjata high voltase berada sendirian di tengah prajurit Purbararang dan tentara sewaan asingnya yang terperangah. Â Dia mampu merontokan berapa orang, sebelum dia sendiri ditembak laser. Â
Indrajaya dan Nyi Ronde keluar dari istana tampaknya marah, dengan terkejut. Nyi Ronde mengeluarkan senjata pamungkasnya  berupa sinar  mematikan berwarna keputihan yang mampu membuat seorang prajurit Purbasari hangus.
Indrajaya melihat aku dan Purbasari mendarat. Dia hampir tidak percaya dengan matanya bahwa Purbasari begitu mulus kulitnya dan dia tidak melihat Lutung Kasarung lagi.
"Wah, lebih tampan suaminya Purbasari!" celetuk warga yang menyaksikan.
Indrajaya panas dan dia menembak dengan senjata laser, aku menghindar ttembakana itu merusak tembok. Lalu aku menembak, Indrajaya juga menghindar dan terkena dinding pendopo. Â Anak buahya ada yang membongkongku, tetapi bisa kuhindar panahnya, sebaliknya dia kena tembakan high voltase.
Indrajaya kemudian berlari menyerbut dan aku pun menyambutnya.  Kami berkelahi dengan tangan kosong.  Nyi Ronde terkejut dan hendak membunuh Purbasari  yang tidak terlalu jauh dengan senjatanya.  Tetapi Ira melihatnya dan langsung menerjang dengan motor capung terbangnya.  Motor capung itu hancur, tetapi Ira melompat menyergap Nyi Ronde.
Nyi Ronde terlempar dan topengnya terlepas  bersama tongkatnya.  Tampaklah wajahnya, seorang perempuan usia sekitar 40 tahun dengan guratan keras. Nyi Ronde sama sekali tidak gentar, bahkan dingin.
Dia mengeluarkan pisau dan menyabetkan ke teteh Ira, tetapi Ira yang memang tentara sekaligus pilot menghindar dengan tangkas.  Tapi aku melihat sekilas karena  disibukan dengan Indrajaya. Dia memakai baju zirah, sementara aku tidak. Tetapi itu membuat gerakannya lambat.
Purbasari berteriak cemas melihat aku bergulat dengan Indrajaya yang sedikit lebih tinggi dari aku. Namun aku menguasai beberapa bela diri dan membuat Indrajaya terpental. Kami terus bekejaran sampai ke halaman istana. Rakyat menonton perkelahian kami dengan antusias. Bahkan mereka ikut campur menyergap para prajurit yang hendak mengeroyok atau membongkong.