"Aku dikatakan mirip lutung oleh teman-teman saya. Tapi untung guru-guru saya selalu membela," kata dia.
"Kamu pintar kan, Ambu kamu cerita sama saya bahwa kamu bisa menerbangkan pesawat, mampu menanam padi di huma dan berkebun. Kamu makan buah tak sengaja karena ingin tahu."
"Buahnya enak. Tapi rupanya merangsang pertumbuhan bulu dan rambut."
"Raja itu apa sih? Anak teteh jadi raja di sana?" Tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan.
"Raja itu pemimpin berdasarkan keturunan. Dia tidak punya penasehat seperti kita. Raja itu harus adil bagi rakyatnya."
"Anak teteh adil?"
"Dia dicintai rakyatnya. Tapi dia ingin menikah dengan saya. Inter Selar membuat usia dia seumur atau lebih tua berapa tahun dari teteh," tutur aku.

Namun bukan itu masalahnya. Tiga bulan kemudian tujuh Koloni Preanger gempar. Guru Minda membawa kabur sebuah pesawat Guru Minda (nama pesawatnya sama) dari Titanium, seorang diri. Pengobatannya gagal, bulu di tubuhnya tumbuh kian lebat.
Aku mirip lutung teteh, kata teman-temanku. Aku pergi ke planet teteh ceritakan. Barangkali di sana aku menemukan kedamaian. Barangkali aku juga bertemu pujaan hatiku.
Pesan itu masuk ke akun media viral di alat komunikasi tiga dimensiku. Sejam kemudian Dewan Preanger memanggil saya, Ira, Mamo dan Sisil. Kami diminta kembali ke lubang cacing mengejar Guru Minda sekalipun sudah tiba di Bumi, membawa obat-obatnya dan membawanya pulang kembali.