"Jodoh itu rahasia Allah," ucap Aisyah  merelakan  suaminya menikahi Maria. Adegan begitu manusiawi Aisyah berlari keluar dan menangis.  Bagaimana pun juga seorang perempuan  tidak  mau cintanya dibagi  Fahri sendiri sebetulnya tidak mau:  Hanya kamu Aisyah  dan poligami tidak semudah itu.
Nah, pada  bagian ini baru  mendapatkan kritik dan diskusi  para pencinta film.  Misalnya Maria kemudian memeluk Islam. Hal ini tentu jadi sensitif, apabila terjadi sebaliknya.  Namun bagaimana pun juga Ayat-ayat Cinta mengangkatnya dan menjadikan sebuah catatan.Â
Kedua soal pembenaran poligami, dalam keadaan tertentu jadi diskusi lainnya. Saya melihat Kang Abik pada  sekuel pertama memenangkan poligami itu, sekalipun akhirnya Maria diceritakan meninggal. Adegan favorit saya  ketika  Aisyah,  Maria dan Fahri satu rumah, ada rasa cemburu ketika Fahri  memilih salah satu untuk satu malam.
Hingga ada  satu  adegan ,  ketika Aisyah  bertanya: "Malam itu kamu tidur di mana?" Fahri memilih tidur di ruang  tamu. Penonton pun terbahak. Â
Pada sekuel  keduanya,  Kang Abik seperti merevisi keputusan Fahri di sekuel pertama, ketika mendapatkan kesempatan  berpoligami dengan yang  beda agama pula, menampiknya.  Dengan demikian pada Ayat-ayat Cinta ke 2 .  Â
Catatan  lain Tokoh  Aisyah  sosoknya berpendidikan tinggi, lebih kaya dari Fahri, membelikan laptop  hingga laki-laki itu jadi resah .  "Kamu adalah imamku dan Aku akan mengikuti kamu. Kamu selesaikan saja  S-2 mu."
Dalam sebuah adegan Fahri menolak, Aisyah menyuap hakim agar membebaskan Fahri. Dia  lebih mempercayai  kejujuran dan penengakan hukum.  Pesan  lain dalam film ini yang  masih relevan hingga  sekarang.
Di akhir film  Fahri  baru menjadi  tidak sempurna, ketika dia menyadari: "Saya yang tidak ihklas menerima Aisyah yang lebih  kaya dari  saya"Â
Kelemahan dalam film ini ialah pada tokoh Naurra yang saya tidak habis  pikir mau-maunya berkomplot dengan pemerkosanya untuk menjebloskan orang yang  sebetulnya dia cintai.  Tetapi  mungkin juga cinta itu absurd.
Ayat-ayat  Cinta menjadi box office kedua  sebesar 3,6 juta penonton (di bawah Laskar Pelangi) pada 2008 dan  mengantarkan  para bintangnya  sama  populernya  dengan  Dian Satrowardoyo dan Nicholas Saputra pada2002.  Media massa hiburan berlomba  menjadikan  Fedi Nuril, Rianty Cartwright dan Carissa Putri jadi  cover.  Bahkan jadi gosip segi tiga di antara ketigaya juga beredar.
Lagu soundtracknya, baik yang dinyanyikan Rossa maupun Sherina menduduki lagu populer selama beberapa bulan.  Hanung Bramantyo pun meroket. Penempatan  lagu pada adegan  yang tepat  membuat tangis pun tumpah. Â