Namun yang mengkhawatir dengan menghilangnya lapangan terbuka untuk bermain bola atau aktifitas fisik, warung internet diserbu anak-anak bahkan tingkat SD untuk main game dengan gila-gilaan hingga lima jam. Di sebuah warnet di kawasan Pondok Labu sampai ada ibu yang mencak-mencak mencari anaknya yang lupa salat ashar. Masih bagus anak-anak itu hanya main game. Di tempat lain nongkrong tidak karuan dan entah kegiatan apa. Dari segi kesehatan ada efek lain, anak-anak dengan kasus obesitas makin bermunculan karena kurang gerak. Pornografi bisa diakses anak-anak karena perubahan teknologi. Begitu juga dengan narkoba dan minuman keras sudah sampai tingkat SD.
Meskipun harus dibuktikan tetapi saya yakin hilangnya lapangan terbuka untuk bermain (bukan hanya sekadar taman) untuk interaksi publik menyumbang masalah sosial. Paling tidak anak-anak usia SD hingga SMA sedang mencari jati diri dan membuktikan dirinya. Tetapi saluran pembuktian jati diri berkurang. Di sisi lain melepas anak-anak di ruang publik tidak mudah karena rasa percaya makin memudar dan menunju masyarkat paranoid sudah mulai terjadi, dengan beberapa kali kasus pemerkosaan.
Kasus tawuran antar kampung masih kerap terjadi. Benda-benda yang digunakan dalam tawuran bisa mematikan dan menimbulkan kerusakan. Yang juga mengesalkan begitu buasnya supporter sepakbola mencegat kendaraan di jalan dan tidak menyadari bahwa tindakan mereka bisa membahayakan nyawa, bahkan pada orang yang tidak pernah menonton sepakbola sekali pun. Kawan saya bilang bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas. Saya bertanya cerdas apanya? Yang kritis itu (dalam politik) itu kebanyakan datang dari mereka yang aktif di media sosial dan bukan pada grass root. Itu Jakarta.
Harapan saya untuk Jakarta apakah Ahok (atau siapa pun gubernur) bisa mengembalikan rasa aman publik, ruang terbuka untuk interaksi publik? Tempat rekreasi yang murah kalau perlu gratis lebih banyak dibuka untuk meredam stress atas tekanan hidup.
Keberhasilan dan Tantangannya
Sayang saya tidak tinggal di Jakarta, tetapi saya mendengar dan menyimak dari media sosial bahwa kawan-kawan saya puas dengan pelayanan publik dari birokrat. Sidak mendadak, lelang jabatan, sewaktu-waktu bisa dicopot merupakan tradisi baru memecut perilaku birokrat. Beberapa fasilitas kesehatan milik Pemprov DKI Jakarta diperbaki, RSUD Pasarminggu mirip rumah sakit swasta. Taman-taman di beberapa tempat sudah diperbaiki. Penggusuran Kalijodo sudah merupakan langkah yang tepat karena lebih banyak mudaratnya.
Namun yang saya rasakan ialah Transjakarta sekalipun belum sempurna, tetapi bisa dibaca arahnya, hanya dengan Rp3500 bisa keliling Jakarta. Naik Transjakarta cenderung lebih aman dibanding kendaraan umum lain adalah keniscayaan. Setidaknya tidak akan ada yang naik Transjakarta mengaku baru keluar dari penjara dengan tattoo yang ditonjolkan. Metromini memang sedang memasuki senjakala dan kehadiran mereka masih diperlukan di rute tertentu, seperti Pondok Labu-Blok M. Tetapi ketika jalur itu juga disentuh Trans Jakarta atau MRT selesai dan harga tiket Rp3500 di bawah ongkos Metromini apalagi angkutan umum lain: maka hukum pasar berlaku.
Soal kemacetan atau banjir saya kira bukan hanya tanggungjawab Pemprov DKI Jakarta (itu juga terjadi di Bandung). Banyaknya jumlah mobil dan motor karena kebijakan pemerintah pusat yang mempermudah satu rumah bisa memiliki lebih dari beberapa mobil dan sistem yang membuat orang membawa pulang motor tanpa Down payment (DP) dan kenyataannya dengan motor lebih irit merupakan persoalan untuk membuat orang beralih ke kendaraan umum.
Buat sistem yang membuat hitung-hitungan ekonomis naik kendaraan umum lebih murah dibanding naik kendaraan pribadi secara jauh? Selain Transjakarta, angkot atau mikrolet disubsidi suku cadangnya dan bensinnya (dengan hitungan pas agar tidak dimainkan oleh pemilik angkot atau mikrolet) agar kalau bisa naik angkot jauh dekat Rp2000. Tentunya juga keamanan dan kenyamanan di angkot. Kalau memang ambil semua.
Namun ada persoalan lain, yaitu budaya yang menempatkan orang yang naik kendaraan pribadi lebih terhormat dibanding naik kendaraan umum sudah terlanjur tertanam. Jujur saja, kalau Anda adalah orangtua yang punya anak gadis, mana yang lebih dipandang teman laki-lakinya yang datang dengan mobil atau jalan kaki alias naik kendaraan umum? Ada yang bilang tidak, tetapi berapa banyak? Marketing perusahaan lebih dihormati kalau punya kendaraan sendiri dibanding naik kendaraan umum. Belum lagi sinetron Indonesia kontemporer yang menempatkan tokoh-tokohnya naik kendaraan pribadi.