Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Seperti Burung Belajar Terbang dengan Sayap Sendiri: Garuda Indonesian Air Ways 1950-1958

23 Oktober 2015   14:07 Diperbarui: 24 Oktober 2015   04:14 798
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

GIA melakukan perbangan selama seminggu ke beberapa tempat di luar negeri, yaitu tiga kali ke Bangkok,  empat kali ke Singapura, serta satu kali ke Manila.   Penerbangan ke luar negeri lain yang masih ada di Indonesia, yaitu bOAC  melayani enam kali penerbangan ke Indonesia, melalui jalur London-Australia.  Lainnya adalah Quantas melayani enam kali penerbangan seminggu.

[caption caption="Iklan garuda Ke Bali "]

[/caption]

Dalam 1958, Direksi Garuda dipimpin  Ir.M.Sutoto , Direktur Urusan Teknik dan Teknik Penerbangan Ir. R. Sugoto, Direktur Urusan Keuangan  Mr.C.A Mochtar,  Direktur Muda  Urusan Teknik dan Teknik Penerbangan Ir.Yap Kie Tik.  

Irvan Sjafari

Catatan  Kaki

  1. Beberapa literatur menyebutkan bahwa pesawat komersial pertama Indonesian Airways adalah DC3 1. sumbangan rakyat Aceh bernama Seulawah kepada Presiden Soekarno.  Arifin Hutabarat, To Our Beloved Country, History of Garuda, Ganesia PR, 1989, Tulisan Yasad Ali dan Budi Setiawanto “Makna Sejarah Peresmian Seulawah Air”  dalam  www.Pelita.or.id (diakses 23 Oktober)  menyebutkan dalam catatan sejarah, Presiden Soekarno pada 6 Juni 1948 datang ke Aceh. Di hadapan rakyat Aceh saat itu, Soekarno antara lain mengatakan tentang pesawat terbang tersebut.Dalam waktu singkat kalimat-kalimat Presiden Soekarno tersebut sangat menyihir semangat rakyat Aceh untuk segera bermusyawarah di Hotel Aceh untuk mengumpulkan dana sebesar 120 ribu dolar Malaysia (sebelum berubah menjadi ringgit) atau setara dengan nilai 20 kilogram emas.

Sumber:

Madjalah Kementerian Perhubungan Triwulan I, II, III dan IV, 1954

Merdeka 12 Mei 1951, 5 April 1958

Pikiran Rakjat, 15  Juli 1957,   10 Desember 1957

Peraturan Penerbangan GIA,  Januari 1950,  Mei 1950

Sumber foto:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun