Koalisi ketiga kemungkinan datang dari PAN, jika bisa menggandeng Demokrat, Nasdem, Hanura dengan total 15 kursi di parlemen malah mungkin menjadi kuda hitam. Nama yang disebut dalam koalisi ini awalnya ialah Hasbullah Rahmad (Ketua DPD PAN Kota Depok). Latar belakangnya sebagai anggota DPRD Jawa Barat dari PAN membuktikan dia sudah punya massa kuat.  Namun belakangan Hasbullah menyatakan mundur dari pencalonan (http://www.depokraya.com/berita-depok/hasbullah-mundur-dari-bursa-calon-walikota-depok/). Tidak terlalu jelas apa hitung-hitungan Hasbullah, tetapi koalisi ketiga sudah kehilangan calon yang cukup kuat.Â
Hanya saja pertanyaannya siapa yang mendampinginya dan apakah tiga partai tersisa mendungnya dan kalau pun jadi  konsistensi koalisinya menentukan.  Tetapi secara internal partai para pengusungnya serupa dengan koalisi PKS-Gerindra : tidak punya persoalan internal.    Â
Para kandidat dan Persoalan di Depok
Prediksi saya sementara rasanya pasangan Idris/Pradi menjadi kandidat terkuat.    Survei sementara Indobarometer, juga menyatakan hal yang sama bahwa pasangan IAS-Pradi meraih angka popularitas 30 persen. Sementara, pasangan Dimas-Babai Suhaeimi meraih 17 persen suara (Depoknews, 24 Juli 2015). Setidaknya di kecamatan di luar Kecamatan Cinere (dan sebagian Limo) yang punya demografi berbeda dengan wilayah Depok lainnya. Sebagai warga Cinere-Limo, saya memberikan perspektif lain.   Â
Di kalangan warga Cinere (dan sebagian Limo) kurang puas dengan pemerintahan kota sekarang terutama soal infrastruktur: janji bahwa perlebaran jalan dari Jalan Bandung hingga Jalan Jakarta hingga Markisa, Penerangan Jalan umum, drainase, hingga sampah. Itu yang saya dengar dari obrolan dengan beberapa kawan. Padahal dari segi pendapatan pemkot,kontribusi wilayah ini besar. Kemungkinan pemilih di wilayah ini banyak yang tidak peduli pada pilwakot mendatang. Bisa jadi partisipasinya kecil. Ibaratnya warga kawasan ini dormitory (numpang tidur saja) karena mereka rata-rata bekerja di Jakarta dan tidak anyak bersentuhan dengan kehidupan Depok, kecuali kemacetan.  Mungkin saja ada perubahan kalau persoalan infrastruktur diselesaikan dalam sisa masa jabatan dan sosialiasi tim suksesinya juga besar. Lawannya? Dimas/Babai rasanya tidak dikenal di wilayah ini. Lain ceritanya kalau pasangan Dimas adalah Nurul Arifin.
Di wilayah lain program seperti bantuan kematian Rp 2juta dari obrolan dengan sejumlah warga, cukup disambut baik terutama dari kalangan menengah bawah. Namun persoalan infrasktur seperti pembangunan perluasan RSUD Depok (yang pasiennya terus membludak) masih belum terwujud. Jumlah penduduk Depok menurut Kementerian Dalam Negeri 1.633.095 jiwa dengan jumlah pemilih 1.203.134 jiwa. Sementara pemerintah Kota Depok menyebutkan jumlah penduduknya 2.042.391 jiwa dan pemilihnya 1.496.994 jiwa (Koran Tempo 22 Juli 2015).
Â
Irvan Sjafari
Ilustrasi Kota Depok (Sumber Foto: Wikimedia)
 Â
Â