Mohon tunggu...
Junjung Widagdo
Junjung Widagdo Mohon Tunggu... Guru - Guru SMAN 1 METRO, LAMPUNG

Nomine Penulis Opini Terbaik Kompasiana Awards 2024 | Juara Favorit Blog Competition Badan Bank Tanah 2025

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Gagah

23 November 2024   10:20 Diperbarui: 23 November 2024   10:21 368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Gagah (Sumber Gambar: Dokumen Pribadi)

Ada rasa haru sekaligus bangga yang terperangkap di sanubariku saat itu. Rona biru di sekitar mata dan luka di pelipisnya menggambarkan betapa pada hari itu Gagah benar-benar mengalami pertarungan yang dahsyat. Tidak hanya menghempaskan segala ketakutannya, tetapi dia juga belajar bertahan untuk menjadi seorang laki-laki sejati.

"Kamu pukul mereka atau ayah yang memukulmu, jadilah anak yang pemberani, jangan pengecut!

Dengan wajah nanar dan jantung yang berdegup kencang, tangan mengepal erat, itulah cara terakhirku mencoba menegur Gagah setelah berulang kali menasehatinya.

Dia adalah putra sulungku, yang hanya berjarak tiga tahun saja dengan putri kami yang kedua. Mungkin, karena jarak yang terlalu dekat dengan adiknya, ada bagian dalam dirinya yang kurang.

Beberapa dekade lalu, aku teringat betul bagaimana aku menangis sejadi-jadinya setelah berkelahi dengan salah satu kakak kelas saat di sekolah dasar. Luka yang aku dapatkan bukan hanya fisik, tetapi juga mental. 

Aku juga teringat betapa kerasnya masa SMP-ku dulu. Penuh dengan kekerasan, perundungan, dan bahkan ditampar oleh guru. Iya, aku ditampar oleh guru setelah beliau melihatku menendang salah satu temanku di kelas. 

Padahal, waktu itu aku hanya sekedar membalas tendangannya, sialnya, yang tertangkap mata beliau adalah saat aku balik menendang temanku itu setelah dia menendangku dulu.

"Udahlah Yah, gak perlu marahin Kakak seperti itu. Gagah sudah bener, dia gak mau nyari masalah di sekolah,

sergah istriku yang membela Gagah.

"Ini gara-gara ibu yang selalu memanjakan Gagah setiap waktu, sehingga dia menjadi pengecut! Jadi seperti perempuan!" 

kata-kataku meluncur begitu saja tanpa bisa aku menahannya.

Bak petir yang menyambar, kata-kataku itu ternyata menyakiti hati Gagah. Ia berlari meninggalkan kami, menangis tanpa kata-kata. 

Melihatnya pergi begitu saja, hatiku hancur. Aku sadar, kata-kataku sangat menusuk dan tak pantas. Aku menyebut anakku pengecut dan bahkan lebih buruk, seperti seorang perempuan yang lemah.

Ya Allah, mengapa aku mengucapkan kata-kata itu? Aku hanya ingin Gagah bisa membela diri, karena aku tahu dunia ini tak pernah ramah pada laki-laki yang lemah. Kadang, dunia justru lebih keras terhadap mereka. Tidak banyak yang melindungi, malah sering kali dibuli.

Sebagai seorang ayah, aku memiliki dorongan yang kuat untuk menjadikan anak-anakku tangguh, pandai bergaul, dan siap menaklukan dunia.

Sayangnya, Gagah belum menunjukkan ketangguhan itu. Aku bahkan seringkali curiga, apakah proses kelahirannya dulu yang sangat lama, 24 jam penuh, menghambat perkembangan mentalnya. 

Atau mungkin, karena jarak yang sangat dekat antara Gagah dan adiknya, Gagah menjadi lebih rentan dan kurang matang secara emosional.

Aku sadar, kasih sayang kami memang terbagi saat putri kami lahir. Gagah seringkali tidur sendiri saat kantuk mendera, dan ibunya pun kelelahan mengurus adiknya tanpa mungkin memperhatikan Gagah.

Terkadang, pekerjaan membuatku jarang bertemu Gagah. Aku berangkat pagi-pagi sekali, saat Gagah masih terlelap. Pulang saat ia sudah tertidur lagi, dan kadang aku hanya bisa mencium keningnya saat Gagah sedang terlelap.

Hari itu, menjadi hari yang berbeda. Saat aku sedang mengajar di kelas, dering telepon istriku terdengar nyaring di kelas.

"Yah, buruan ke SD nya Gagah, aku di sini. Gagah luka, dia di ruang BK," katanya dengan nada panik. Telepon itu terputus begitu saja.

Aku langsung berlari keluar kelas menuju sekolah Gagah, pikiranku mulai kacau.

“Dasar anak pengecut, kayak perempuan, pakai rok aja!” gumamku dalam hati. 

“Laki-laki itu harus berani, jangan cemen, woy!” pikirku semakin keras.

Aku menyalahkan Gagah tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia sampai dibuli berulang kali dan diam saja tanpa melawan? Bukankah itu waktunya dia belajar untuk berani?

Saat tiba di sekolah dan masuk ke ruang BK, aku melihat istriku tengah duduk di samping Gagah yang masih terisak menangis. Tanpa berpikir panjang, aku mendekati Gagah dan memberikan dorongan kasar di dahinya.

"Kamu ya, sudah berulang kali Ayah katakan, lawan! Kalau tidak, Ayah yang akan pukul kamu. Ngerti?" suaraku terangkat, penuh emosi.

Gagah mundur sedikit, air matanya semakin deras. "Ayah..." isaknya pelan, seolah kata-kataku semakin mematahkan semangatnya.

Istriku mencoba mengingatkan, “Ayah, dengar dulu! Kita di sekolah, kasihan Gagah!” 

Namun, aku tetap tidak bisa menahan kemarahan dan rasa kecewa yang menumpuk.

Tiba-tiba, suara lembut Ibu Rini wali kelas IV, kelasnya Gagah, memecah keheningan. 

“Mohon maaf, Pak, hari ini Gagah berkelahi di depan kelas. Ketiga temannya dibuatnya menangis. Persoalannya, karena mereka mengejek nama bapak. Gagah nggak terima, lalu mendatangi mereka bertiga dan membuat mereka menangis.”

Hatiku seketika berubah. Ada rasa bangga mengalir begitu saja. Ternyata, hari ini Gagah bukanlah anak yang pengecut. Dia mampu melawan dengan caranya sendiri, meskipun tidak dengan kekuatan fisik yang besar. Dia mempertahankan harga dirinya, dan itulah yang penting.

Namun, sebelum aku bisa mengekspresikan kebanggaanku lebih lanjut, Gagah menatapku dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya. “Ayah,” kata Gagah dengan suara lirih namun jelas, “tadi bukan aku yang memukul mereka. Mereka yang memukulku dulu. Aku cuma... cuma melawan supaya mereka berhenti mengejek Ayah.”

Tangan ku terhenti di udara, kata-katanya menusuk jauh ke dalam hatiku. Selama ini, aku mengira Gagah adalah anak yang menyerah begitu saja, namun kenyataannya, dia sedang mencoba melindungi aku, ayahnya, dengan cara yang tidak pernah ku duga.

Dadaku terasa remuk, seolah seluruh tubuhku dihantam rasa sesal yang mendalam. Betapa bodohnya aku selama ini. Gagah bukan hanya melawan kekerasan fisik, dia berjuang untuk menjaga harga diri keluarganya.

Aku menganggapnya lemah, padahal dia sedang melindungi apa yang paling penting, aku, ayahnya, yang buta terhadap cara dia menunjukkan keberanian.  

Semua yang selama ini kuanggap sebagai kekurangan, ternyata adalah bentuk keberanian yang berbeda. Gagah memelukku erat, dan aku merasakan ada ikatan baru di antara kami. Tidak hanya sekedar ayah dan anak, tetapi dua orang yang akhirnya mengerti satu sama lain. 

Tanpa kata-kata, aku menarik Gagah ke pelukanku. Air mata mengalir tanpa bisa kubendung. Aku berbisik, "Maafkan Ayah, nak. Ayah salah. Kamu lebih gagah dari yang Ayah kira, terima kasih telah menjadi berani dan membela diri"

Di penghujung tahun, ketika segala kenangan dan perasaan melintas begitu cepat, aku teringat kembali pada hari itu, hari yang mengubah banyak hal antara aku dan Gagah. 

Seperti kebanyakan orang tua, aku sering terjebak dalam harapan yang berlebihan untuk anak-anak. Namun, pada titik tertentu, ketika waktu seakan melambat di akhir tahun, aku mulai menyadari bahwa keberanian bukan selalu tentang kekuatan fisik, melainkan tentang keberanian untuk menghadapi diri sendiri dan dunia dengan cara yang mungkin tak pernah ku pahami sebelumnya. 

Di penghujung tahun, aku baru menyadari bahwa Gagah, dengan segala ketangguhannya yang tersembunyi, telah mengajarkan aku tentang arti sejati dari menjadi seorang ayah, tentang memberi ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan cara mereka sendiri.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun