Ketiga adalah harga pembelian pemerintah yang juga tinggi. Pemerintah menerapkan skema pembelian yang fleksibel. Artinya mengikuti harga beras dipasaran. Strategi ini digunakan untuk mengantisipasi harga beras di tingkat petani dan penggilingan yang tinggi.Â
Namun, pemerintah seharusnya waspada juga. Harga pembelian pemerintah yang dikeluarkan selalu menjadi patokan bagi pedagang. Mereka tentu akan membeli beras diatasi harga tersebut. Logikanya, jika mereka tidak bisa membeli diatas harga pemerintah mereka tentu tidak akan mendapatkan beras. Karena bagi petani tidak ada beda antara menjual beras ke pemerintah dan pedagang. Pasti persaingan akan terjadi pada titik ini.
Keempat, pemberlakuan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras di sejumlah wilayah. Perbedaan antara beras medium dan beras premium adalah terletak pada mutu fisik. Broken atau butir patah inilah yang menentukan perbedaan fisik keduanya.Â
Hanya dengan mengurangi persentase butir patah, maka pedagang sudah bisa menghasilkan beras kualitas premium. Dan, semua ini bisa dilakukan dengan melakukan pencampuran saja atau dioplos. Namun harga beras antara keduanya hampir Rp 3.000 per kilogram. Sungguh menggiurkan. Jadi itulah mengapa beras medium selalu mengalami kekosongan pasokan.
Kelima, biaya usaha tani yang begitu tinggi. Menurut penelitian petani mengeluarkan Rp 4.200 untuk menghasilkan satu kilogram gabah jauh diatas harga pembelian pemerintah untuk satu kilogram gabah yang hanya Rp 3.700. Maka sudah barang tentu pasti petani akan menjual kepada pembeli yang sanggup membeli diatas harga tersebut. Artinya disini, harga beras akan sangat sulit untuk kembali normal pada harga semula seperti yang diinginkan pemerintah.
Kesimpulannya adalah dengan melihat kelima faktor penyebab diatas, maka sudah tidak mungkin beras akan kembali normal pada harga sebelumnya. Oleh karena itulah kedepannya fenomena ini dapat dijadikan pembelajaran bersama. Sangat diperlukan kebijakan yang komprehensif dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Tentu syaratnya diperlukan orang yang cakap dan sangat mengerti tentang kebijakan pertanian.
#Kandidat Doktor Ilmu Pertanian Universitas Sriwijaya
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H