"Inquiry Based Learning pada Materi Campuran Homogen dan Heterogen
 di Sekolah Pelosok"
Â
oleh: Julia Roli Sennang Banurea, S.Pd,Gr.
SD N 06 Ransi Dakan, Kabupaten Sintang, Kalbar.
      Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mengaktualisasikan 4C. Yakni berpikir kritis (critical thinking), berkomunikasi (communication), berpikir kreatif (creative thinking), dan kolaborasi (collaboration).
      Penerapan dari keempat skill tersebut, menjadi kecakapan yang dapat digunakan menghadapi ragam perubahan yang terjadi.
      Seperti implementasi model pembelajaran yang dilaksanakan di SD N 06 Ransi Dakan, Kec. Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Sekolah yang berada di daerah terpencil ini menggunakan inquiry based learning (pembelajaran berbasis inkuiri) dalam materi sains atau ilmu pengetahuan alam.
      Pembelajaran inquiry based learning ini dilaksanakan melalui praktikum sains. Tepatnya di ruang kelas yang juga sebagai ruang laboratorium sains.
      Salah satu tujuan pembelajaran sains di kelas V tema 9 adalah memahami cara membedakan larutan homogen dan heterogen.
      Untuk memahamkan peserta didik pada materi campuran, maka cara yang paling efektif adalah peserta didik dan guru melaksanakan praktikum dengan model inquiry based learning.
Berikut ini adalah tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.
* Tahap persiapan:
1. Guru mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp), lembar kerja praktikum, ragam bahan/benda dari lingkunganÂ
  sekolah (air, teh, botol bekas, gelas, sendok)
2. Guru memberi kebebasan kepada peserta didik membawa ragam bahan/benda dari rumah (satu bahan/orang) seperti gulaÂ
  secukupnya, kopi, garam, susu bubuk, tepung gandum, deterjen, tanah, pasir, minyak goreng, cuka, sirop, air di dalam botol, gelasÂ
  bening, sendok.
3. Menyiapkan kelas dengan mengatur posisi dan letak bahan praktikum di meja yang telah di susun.
4. Mempersiapkan empat papan tulis kecil untuk tiap kelompok
5. Guru dan peserta didik memakai jas praktikum sesuai SOP lab.
* Tahap pelaksanaan
1. Praktikum dimulai dengan doa serta arahan prosedur pelaksanaan
2. Guru membagi peserta didik ke dalam empat kelompok secara heterogen
3. Membagi lembar kerja praktikum sains ke setiap peserta didik di dalam kelompok
4. Menulis tabel praktikum materi campuran homogen dan heterogen di papan tulis
5. Guru mempraktikkan satu bahan, untuk praktikum ke-1, yakni pewarna makanan (hijau) dan air di masukkan ke dalam gelas, diaduk dan ditunggu sekitar 1 menit.
6. Guru menyuruh peserta didik untuk mengamati proses dan mengutarakan apa yang mereka observasi. Untuk efisiensi waktu, guru mencatat seluruh perspektif dan tanggapan siswa tentang hasil obeservasi yang mereka lakukan.
Ragam tanggapan muncul, yakni
*Air berubah warna menjadi hijau
*Air menyatu dengan pewarna
*Pewarna makanan larut di dalam air
*Air dan pewarna makanan menjadi satu dan tidak bisa dipisah
Praktikum ke-2,
*Guru memasukkan pasir ke dalam botol aqua gelas, mengaduk pasir tersebut di dalam air dan menunggu sekitar 1 menit. Peserta didik mengobservasi percobaan dan proses yang terjadi.
*Tanggapan yang muncul  dan dituliskan di papan tulis adalah:
*Pasir bergerak ketika di aduk
*Pasir tidak menyatu dengan air
*Pasir jatuh/ turun ke posisi bawah botol
*Pasir tidak larut dalam air
*Pasir masih bisa dipisah dengan air.
Setelah guru mempraktikkan dua bahan, giliran peserta didik untuk mempraktikkan seluruh bahan yang telah tersedia. Berikut beberapa bahan yang langsung dipraktikkan oleh peserta didik.
Praktikum ke-3
Air dengan minyak goreng (peserta didik memasukkan minyak goreng ke dalam air dan mengaduknya. Peserta didik dari tiap kelompok mengobservasi setiap perubahan yang terjadi. Beberapa tanggapan yang dinyatakan oleh peserta didik:
*Minyak mengapung
*Minyak goreng naik ke atas permukaan air
*Minyak terpisah dengan air
*Air tidak bisa menyatu dengan minyak dan larut
     Peserta didik di setiap kelompok bekerjasama untuk melaksanakan praktikum semua bahan yang dibawa. Menuliskan hasil observasi di buku praktikum sains serta mengisi lembar kerja praktikum.
Contoh, Â lembar kerja praktikum sains SD N 06 Ransi Dakan
Tahap evaluasi
1. Setelah melaksakan praktikum diatas guru dan peserta didik menyimpulkan tujuan pembelajaran yang telah dilaksanakan
2. Guru mengarahkan peserta didik untuk mengingat kembali seluruh yang diamati dalam praktikum dan menemukan apaÂ
  sebenarnya "learning goals" atau tujuan pembelajaran pada materi tersebut.
3. Hampir keseluruhan peserta didik menjawab bahwa mereka "praktik materi campuran yang larut dan tidak larut".
4. Guru setuju dengan simpulan peserta didik. Guru mengarahkan lagi peserta didik lebih spesifik ke tujuan pembelajaran yakni"Â
   memahami campuran homogen dan heterogen. Atau guru menekankan istilah yang digunakan dalam sains.
   Campuran homogen adalah zat yang penyusunnya tersusun atau tercampur dengan sempurna. Campuran homogen disebut jugaÂ
  dengan larutan.
  Campuran heterogen adalah campuran yang komponen-komponennya masih dapat terlihat terpisah atau tidak larut.
5. Guru melakukan evaluasi secara keseluruhan dari segi proses dari observasi kegiatan. Memberi penilaian di lembar kerja praktikum  sains serta memperbaiki kekurangan pada buku praktikum sains.
      Konsep model inquiry based learning yang terjadi dalam praktikum di atas adalah bahwa guru mengarahkan peserta didik untuk menemukan sendiri tujuan pembelajaran pada materi sains tersebut.
      Posisi guru tidak berfungsi sebagai pengajar dan menjelasakan, namun lebih kepada mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan sendiri apa yang menjadi tujuan pembelajaran.
      Ketika peserta didik mampu menemukan sendiri tujuan pembelajaran yang dimaksud, maka akan kekal diingatan peserta didik. Dibandingkan dengan penjelasan guru.
      Praktikum secara konkret membantu peserta didik untuk lebih memahami arah spesifik tujuan pembelajaran.
      Proses metode ilmiah juga terlihat dari aktivitas praktikum, yakni guru mencontohkan dan menyediakan pertanyaan pada lembar kerja praktikum, munculnya ragam hipotesis, merancang dan melaksanakan praktikum, analisis, pengumpulan data dan kesimpulan.
     Berpikir kritis dan kreatif, berkolaborasi dan berkomunikasi dengan peserta didik lain di dalam kelompok akan mempermudah proses penemuan "learning goals", sehingga proses pembelajaran berhasil. Â
     Peserta didik juga mampu menjawab pertanyaan terbuka bersifat higher order thinking skill (hots). Hal ini terlihat dari aktivitas belajar yang penuh rasa penasaran serta hasil belajar yang di atas kriteria ketuntasan minimal.
Sekilas model pembelajaran di sekolah 3T
Semoga tulisan ini bermanfaat
Salam...
Referensi :
Amini, Risda. 2020. Pengenalan Laboratorium IPA SD. Kediri : Aksara Rentaka Siar
Daryanto dan Syaiful Karim. 2017. Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava  Â
        Media.
Sudarsih. 2017. Benda-Benda di Sekitar Kita. Sukoharjo: Fokus.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI