"Emak, Jalih mohon do'anya. Karena hari ini adalah hari terakhir Jalih mengikuti ujian, Jalih pengen cium kening Ibu. Udah lama banget Jalih nggak cium keningnya."
"Boleh nak. Sini cium emak."
Jalih menahan kecupannya itu di dahi Emaknya. Belum sempat Ia menjauhkan kepalanya itu, air mata keduanya menyucur, mereka tak bisa menahan pedihnya bertahan hidup hanya berdua. Jalih menangisi emaknya karena terharu dengan emaknya yang semangat menjalani hidup dan bekerja keras hanya untuk menyekolahkan anaknya. Sementara Emaknya sangat terharu dengan anaknya yang masih menjaga buku pemberiannya sedari Ia menginjakkan kaki pertama kalinya di bangku sekolah dasar. Buku itu terlihat usang namun masih layak untuk dibaca. Emak Ipeh selama ini tidak pernah menanyakan pelajaran apa saja yang dapat anaknya itu petik dari buku pemberiannya. Merasa timingnya pas, Ia pun menanyakan hal tersebut.
"Jalihh, kan Jalih udah pegang buku itu dari sd, sekarang Ibu mau nanya apa apa aja yang udah jalih peroleh dari buku itu."
Mendengar pertanyaan Ibunya, Jalih malah semakin menitikan air mata. Hal tersebut membuat Emak Ipeh bingung.
"Lah kok malah tambah nangis. Jangan gitu dong, emak juga sedih kalau liat Jalih sedih."
"Sebelum Jalih jawab pertanyaan emak, Jalih pengen nanya ke emak, boleh?"
"Mau nanya apa?"
"Ibu jawab jujur, Ibu nggak bisa baca ya?"
Emak Ipeh seketika terdiam.Â
"Jawab Mak, kok diem."