Senja
Perlahan selepas penat, kami berbeda. Di ujung pertigaan. Saya ke sana, dia kemana. Gurau gurih, secepat berlalu. Ditutup utang besok dulu, Pak De.Â
Kini langit yang kian tinggi, membalikkan matahari pada benamnya. Sengatnya tak lagi membuat peluh. Ia merendah, berpaling mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Sebab harus pagi ia membangunkan yang lapar.
Kuning, merah, abu, dan bayu mengantar aku kembali ke rumah. Pun sahabatku, kuharap merah, abu, dan bayu mengayuhnya sampai ke rumah. Walau tanpa kuning. Ia tak suka warna itu. Lonceng kematian baginya.Â
Sayup-Pilu
Gurau, senja. Kugendong di saku tas belakang. Tidak berat. Hanya perasaan ini, membebani.
 Perlahan, langkah dua kaki ini mendekati jendela. Belum kututup sedari pergi. Kutengok halaman belakang, seperti biasa, rerumputan yang selalu riang kala aku kembali. Beberapa nampak menertawakan ku. Aku tersenyum simpul, sinis.Â
Depan pintu, berat tangan mengetuk. Tak terbiasa memang. Karena tak ada siapa pun juga di dalam. Hanya sandiwaraku.Â
Dengan tangan kiri ini, jemari jempol dan telunjuk menempel kunci membuka pintu.Â
Plong!!
KOSONG