Mohon tunggu...
Jepe Jepe
Jepe Jepe Mohon Tunggu... Teknisi - kothak kathik gathuk

Males nulis panjang.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Babad Tanah Kompasiana dalam Sebuah Roman

27 Juni 2021   10:31 Diperbarui: 27 Juni 2021   11:24 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Roman Karya Kompasianer MJK (dokpri)

Ada suatu kala di mana Kompasiana tidak sesejuk dan seramah hari ini. Sebuah masa di mana menulis di Kompasiana ibarat pergi berperang, membawa keris, kelewang, ataupun aji-aji kesaktian lainnya. 

Bukan berperang untuk meraih predikat AU (Artikel Utama) atau Headline atau Pilihan, namun berperang dalam tulisan dan komentar untuk memperdebatkan faham politik, ideologi atau sekedar pilihan gaya atau cara hidup.

Masa sekitar pilpres 2014 boleh dikenang oleh warga Kompasiana sebagai salah satu puncak pertempuran antar penulis atau Kompasianer yang paling panas dan ganas sepanjang sejarah situs ini. Dua kubu kompasianer yang sepertinya memperlihatkan terbelahnya massa politik Indonesia saat itu seperti terminiaturisasi dalam Kompasiana 2014.

Tidak adanya pemberian label "Pilihan" seperti sekarang ini membuat setiap tulisan memiliki kesempatan waktu tayang yang nyaris sama, entah itu tulisan berbobot maupun sampah. Kolom komentar yang tidak terbatasi dari sisi struktur anak jawaban membuat perdebatan di kolom bisa menjadi begitu sengit. Tidak ada centang yang membedakan kompasianer. Alam demokrasi yang sesungguhnya!

Secara elegan, satirik namun sangat menggelitik dan unik, Kompasianer MJK Riau alias Masjokomu alias Bapak Joko Wardhono yang bermukim di Pekanbaru mengabadikan gonjang ganjing pertempuran para Kompasiner itu dalam roman novelnya yang berjudul Sayidin Panotogomo yang diterbitkan Galaxy Star awal tahun 2021 ini.

Kesaktian para Kompasianer beradu pena digital terejawantah dalam belasan karakter sakti mandraguna dalam novel ini. Ibarat kisah bentrok antar superhero dunia atau bharata yudha, setiap tokoh di cerita ini yang terinspirasi oleh kompasianer yang memperlihatkan aji-aji kesaktiannya masing masing dalam roman yang sarat tidak hanya dengan adegan pertempuran tapi juga percintaan ini.

Seperti J. R. R. Tolkien mendisain semesta narasinya untuk the Hobbits dan the Lord of the Rings, kompasianer MJK juga menciptakan alam raya Sayidin Panotogomo yang berpusat pada kerajaan Matraman Raya. Bukan tanpa alasan nampaknya pemilihan nama kerajaan ini. "Matraman Raya" yang kini adalah nama sepenggal ruas jalan di Jakarta Timur, konon berasal dari kata "Mataraman". Ruas jalan di Jakarta Timur itu di masa lampau dipercaya sebagai lokasi pusat perkemahanan pasukan Mataram dari Sultan Agung saat bersiap menyerbu VOC pada tahun 1628-1629. 

Pemilihan Matraman Raya sebagai pusat konflik dan sengketa politik, secara cerdik menggambarkan perebutan kefanaan, persaingan mendapat suatu kejayaan tanpa arti, kekuasaan yang semu.

Konflik sentral roman ini adalah pergumulan Raja Adi sang penguasa Kerajaan Matraman Raya dalam mengarungi keinginan-keinginan politik dan hasrat penaklukan cintanya yang liar walaupun sudah beristrikan permaisuri Raisa yang kecantikannya tak terbendung semesta.

Pelbagai tokoh sahabat, kekasih gelap, keluarga maupun musuh dari Raja Adi bermunculan dalam karakter-karakter yang mewujudkan para Kompasianer pada masa itu dengan kesaktiannya masing-masing.  

Sebut saja misalnya tokoh Tante Ming yang jelita dan berkulit teramat putih bak pualam namun penuh tipu daya keji, Mas Ukik yang cerdik, Baginda Raja Armanda Armand yang bijaksana, Panembahan Jati yang setia dan pemberani, Ki Ageng Bain Batman penguasa planet kenthir yang disegani, Putri Biyan Biyanca yang kenes menggoda, Bunda Fitri Manalu yang welas asih, Miss Seneng Tami Zen yang rupawan penuh muslihat, Panglima Super Aji yang gagah, atau Panglima Gatot Gaza si bocah ajaib yang sekujur tubuhnya keras bak baja kecuali bagian vitalnya.

Raja Adi sendiri bisa diperkirakan diinspirasi oleh Kompasianer kontroversial bernama sama yang di lapaknya menyebut cita-cita luhurnya menjadi penulis untuk majalah Life. Sang tokoh pamungkas roman ini yaitu Sayidin Panotogomo sangat mungkin diilhami oleh seorang Kompasianer yang bermukim di Timur Tengah yang sangat sering berseteru dengan seorang Kompasianer lainnya yang tinggal di Jerman.

Membaca Sayidin Panotogomo akan membawa kita pada alur cerita yang cepat a la roman Ayu Utami namun lugas dengan konflik politik dan percintaan yang dipenuhi duel kesaktian a la S. H. Mintardja dalam versi yang nyeleneh. 

Berbagai kejadian yang terjadi pada masa yang paralel maupun lampau dan setiap tokoh yang memiliki relasi historis satu sama lain yang saling terkait, membuat rangkaian kisah yang dibangun begitu menjejaring. Harus diakui kekuatan Kompasianer MJK yang tekun dan jeli dalam membangun semesta narasi dari kepingan-kepingan yang akhirnya terbangun penuh di bagian akhir. 

Akhirnya satu kalimat pepatah adiluhung mampu menyimpulkan suatu pesan moral yang tak akan lekang oleh waktu dari roman nyentrik ini:

Menungsa ingkang sejati ing urip, sangkan paraning dumadhi. Sakti waskita, weruh sak durung winarah.

Manusia yang sejati, dalam hidupnya akan ingat dari mana ia berasal dan ke mana menuju. Kebijakannya akan memberi pengetahuan sebelum segala sesuatu terjadi.

Raja Adi yang sakti tidak menggunakan kebijaksanaannya untuk mengekang ambisi ambisinya yang tidak teratur. Hal yang membuatnya hancur luluh lantak sebelum sempat bertobat.

-Jakarta minggu pagi, 27 juni 2021-

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun